PDCA (Plan-Do-Check-Act) dan PDSA (Plan-Do-Study-Act) adalah dua metode manajemen yang digunakan untuk kontrol kualitas dan peningkatan berkelanjutan. Keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk meningkatkan proses dan hasil, namun terdapat beberapa perbedaan dalam pendekatan dan fokusnya. Dalam konteks rumah sakit, penerapan kedua metode ini bisa membantu dalam meningkatkan efisiensi operasional, kualitas pelayanan, dan kepuasan pasien.

Perbedaan antara PDCA dan PDSA

PDCA (Plan-Do-Check-Act)

  1. Plan (Rencanakan): Mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis akar penyebab, menetapkan tujuan, dan merencanakan tindakan.
  2. Do (Laksanakan): Melaksanakan rencana yang telah dibuat.
  3. Check (Periksa): Mengevaluasi hasil dari tindakan yang diambil dengan membandingkannya dengan tujuan yang telah ditetapkan.
  4. Act (Tindaklanjuti): Mengambil tindakan korektif jika hasil tidak sesuai dengan tujuan atau standarisasi jika perbaikan berhasil.

PDSA (Plan-Do-Study-Act)

  1. Plan (Rencanakan): Mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, menganalisis akar penyebab, menetapkan tujuan, dan merencanakan tindakan.
  2. Do (Laksanakan): Melaksanakan rencana yang telah dibuat.
  3. Study (Pelajari): Memeriksa dan menganalisis hasil secara mendalam untuk memahami apa yang berhasil dan mengapa.
  4. Act (Tindaklanjuti): Mengambil tindakan berdasarkan pemahaman yang diperoleh dari tahap “Study”, baik itu untuk perbaikan lebih lanjut atau standarisasi.

Perbedaan Utama antara PDCA dan PDSA

  • Pendekatan Evaluasi: Pada PDCA, tahap evaluasi lebih berfokus pada pemeriksaan apakah hasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Check). Sementara pada PDSA, tahap evaluasi lebih mendalam dengan mempelajari (Study) hasil dan memahami apa yang bekerja dan apa yang tidak, serta mengapa hal tersebut terjadi.
  • Fokus pada Pembelajaran: PDSA lebih menekankan pada pembelajaran dari hasil tindakan, sehingga analisis lebih mendalam dilakukan untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi hasil.

Penerapan PDCA di Rumah Sakit

Contoh: Mengurangi Waktu Tunggu Pasien di Poliklinik

  1. Plan (Rencanakan)
  • Identifikasi Masalah: Waktu tunggu pasien di poliklinik terlalu lama.
  • Pengumpulan Data: Data waktu tunggu dari pendaftaran hingga konsultasi dokter.
  • Analisis Data: Analisis titik bottleneck.
  • Penetapan Tujuan: Mengurangi waktu tunggu sebesar 30% dalam 6 bulan.
  • Perencanaan Tindakan: Menambah loket pendaftaran, tenaga medis, dan optimalisasi jadwal dokter.
  1. Do (Laksanakan)
  • Pelaksanaan Rencana: Penambahan loket, tenaga medis, dan pengaturan jadwal dokter.
  • Pelatihan dan Sosialisasi: Pelatihan bagi petugas dan tenaga medis.
  • Pengumpulan Data: Data waktu tunggu setelah perubahan.
  1. Check (Periksa)
  • Evaluasi Hasil: Apakah waktu tunggu berkurang sesuai target.
  • Analisis Data: Analisis hasil waktu tunggu baru.
  • Identifikasi Kesenjangan: Kesenjangan jika waktu tunggu masih belum sesuai target.
  1. Act (Tindaklanjuti)
  • Tindakan Korektif: Tindakan tambahan jika diperlukan, seperti sistem antrian elektronik.
  • Standarisasi Perbaikan: Standarisasi prosedur baru dan membuat SOP.
  • Perencanaan Siklus Berikutnya: Merencanakan siklus PDCA berikutnya untuk masalah lain atau peningkatan lebih lanjut.

Penerapan PDSA di Rumah Sakit

Contoh: Meningkatkan Kepatuhan Terhadap Protokol Kebersihan Tangan

  1. Plan (Rencanakan)
  • Identifikasi Masalah: Kepatuhan terhadap protokol kebersihan tangan rendah.
  • Pengumpulan Data: Data kepatuhan saat ini.
  • Analisis Data: Analisis alasan kepatuhan rendah.
  • Penetapan Tujuan: Meningkatkan kepatuhan sebesar 50% dalam 3 bulan.
  • Perencanaan Tindakan: Pelatihan ulang, penempatan poster, dan pengingat otomatis.
  1. Do (Laksanakan)
  • Pelaksanaan Rencana: Pelatihan, poster, dan pengingat otomatis.
  • Pelatihan dan Sosialisasi: Pelatihan bagi staf.
  • Pengumpulan Data: Data kepatuhan setelah implementasi.
  1. Study (Pelajari)
  • Evaluasi Hasil: Mempelajari apakah kepatuhan meningkat dan mengapa.
  • Analisis Mendalam: Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan.
  • Identifikasi Kesenjangan: Kesenjangan antara hasil dan tujuan serta faktor-faktor penyebabnya.
  1. Act (Tindaklanjuti)
  • Tindakan Korektif: Jika kepatuhan belum sesuai, mengembangkan strategi tambahan seperti pengingat personal.
  • Standarisasi Perbaikan: Jika berhasil, membuat SOP dan standarisasi praktik kebersihan tangan.
  • Perencanaan Siklus Berikutnya: Merencanakan siklus PDSA berikutnya untuk perbaikan lebih lanjut atau masalah lain.

Baik PDCA maupun PDSA adalah alat yang efektif untuk perbaikan berkelanjutan di rumah sakit. PDCA lebih berfokus pada pengecekan hasil terhadap tujuan, sedangkan PDSA lebih menekankan pada pembelajaran dari hasil dan pemahaman mendalam tentang apa yang bekerja dan mengapa. Penerapan yang konsisten dari salah satu metode ini membantu rumah sakit dalam meningkatkan kualitas pelayanan, efisiensi operasional, dan kepuasan pasien.

 

Sumber: Dr. Galih Endradita M


artikel-16.png

Untuk memastikan bahwa semua program kesehatan dapat berjalan dengan lancar dan efisien, Sekjen Dinkes Surabaya memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa semua kegiatan kesehatan masyarakat terkoordinasi dengan baik.

“Peran Sekjen Dinkes Surabaya sangatlah vital dalam memastikan bahwa semua kegiatan kesehatan di Surabaya dapat berjalan dengan lancar. Dengan adanya koordinasi yang baik, kita dapat memastikan bahwa semua program kesehatan dapat mencapai sasaran yang diinginkan,” kata Dr. Bambang Wibowo, Kepala Dinas Kesehatan Surabaya.

Untuk menghindari tumpang tindih program dan memastikan penggunaan sumber daya yang efisien, Sekjen Dinkes Surabaya memiliki peran penting dalam memastikan bahwa semua stakeholder terlibat dalam kegiatan kesehatan.

“Koordinasi yang baik antara berbagai pihak terkait dalam kegiatan kesehatan sangatlah penting untuk mencapai hasil yang optimal. Sekjen Dinkes Surabaya harus mampu menjadi penghubung yang baik antara berbagai pihak agar program kesehatan dapat berjalan dengan efektif,” kata Prof. Dr. Siti Aminah, pakar kesehatan masyarakat.

Dalam hal ini, Sekjen Dinkes Surabaya harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk memastikan bahwa semua informasi yang berkaitan dengan kegiatan kesehatan disampaikan dengan jelas dan tepat kepada semua pihak yang terlibat.

Untuk memastikan bahwa semua program kesehatan berjalan dengan lancar dan efisien, peran Sekjen Dinkes Surabaya sangat penting. Dengan koordinasi yang baik, kesehatan masyarakat Surabaya dapat terjaga dengan baik.


artikel-70.png

Asma adalah penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus sebagai respons terhadap berbagai rangsangan. Hal ini ditandai dengan gejala episodik berulang seperti mengi, batuk, sesak napas, dan rasa berat di dada, terutama pada malam hari dan/atau dini hari. Ini biasanya dapat dibalik di pagi hari. Terlepas dari apakah terapi digunakan atau tidak.

Karena aktivitas fisik dapat memicu serangan asma, beberapa penderita asma menghindarinya. Namun anggapan ini tidak benar karena penderita asma masih bisa berolahraga. Sebaliknya, penderita asma harus berolahraga dengan hati-hati setiap hari. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan tentang Pedoman Pengendalian Asma yang menekankan bahwa penderita asma harus tetap menjaga kesehatan dan berolahraga.

 

Aktivitas Fisik Bagi Penderita Asma

Penderita asma bisa dimulai dengan langkah mudah:

  • Perbanyak bergerak dan kurangi duduk, misalnya dengan berjalan-jalan di halaman, mengajak jalan-jalan bersama anjing, atau menari. Manfaatkan kesempatan untuk lebih sering bergerak sepanjang hari.
  • Sebelum memulai program olahraga, periksakan kesehatan Anda ke dokter. Tanyakan tentang perubahan pengobatan atau masalah olahraga.
  • Mulailah dengan aktivitas aerobik sederhana seperti berjalan kaki. Latihan kekuatan harus ditambahkan secara bertahap.
  • Lakukan aktivitas yang Anda sukai dan ajaklah orang lain ke rumah atau tempat kerja Anda, karena melakukannya bersama orang lain akan memakan waktu lebih lama dibandingkan melakukannya sendiri.
  • Lakukan pemanasan dan pendinginan selama 10 menit sebelum dan sesudah aktivitas untuk mengurangi kemungkinan timbulnya gejala asma. Mulailah dengan intensitas ringan hingga sedang, tetapi konsentrasilah pada durasinya.
  • Bawalah obat-obatan pribadi (misalnya inhaler) saat Anda melakukan aktivitas fisik.

gigi1-1536x1536-1-1200x1200.jpg
21/Oct/2022

Harus Seberapa Sering Periksa Gigi ke Dokter?

Menjaga kesehatan gigi dan mulut adalah hal yang penting dilakukan bagi setiap orang — tua dan muda, laki-laki dan perempuan. Selain dengan rajin gosok gigi dan pakai obat kumur, penting juga untuk rutin memeriksakan gigi ke dokter gigi. Memangnya, harus seberapa sering periksa gigi?

Kenapa harus periksa gigi?

Pemeriksaan gigi oleh dokter gigi bisa mendeteksi dan mengobati berbagai gangguan yang umum menyerang area mulut. Misalnya saja gigi berlubang (karies) dan penyakit gusi.

Gigi berlubang adalah masalah permanen dan tidak akan bisa sembuh sendiri. Jika tidak diobati, lubang tersebut akan semakin menganga lebar dan rasa sakitnya akan semakin parah. Lubang gigi yang terlanjur parah bisa menimbulkan infeksi yang menyebar hingga ke akar dan menimbulkan bengkak (abses). Pada orang dengan daya tahan tubuh rendah, infeksi bisa menyebar hingga organ tubuh lain misalnya sinus, rahang, hingga ke daerah leher dan dada.

Sayangnya, kebanyakan orang tidak sadar akan masalah gigi dan mulut yang mereka alami. Padahal, semakin dini penyakit terdeteksi, perawatan akan semakin sederhana, biaya semakin murah, risiko sakit akan semakin kecil. Dokter gigi pun dapat memeriksa adanya tanda-tanda dan gejala kanker mulut saat memeriksa gigi Anda.

Lalu, berapa kali saya harus cek gigi?

Orang dewasa disarankan untuk periksa gigi rutin tiap 6 bulan sekali. Namun, apabila ada keluhan pada gigi dan mulut, Anda disarankan untuk langsung datang ke dokter gigi.

Frekuensi kunjungan 6 bulan sekali tersebut juga tidak sama untuk semua orang. Jika Anda memiliki gangguan metabolisme atau penyakit sistemik dan berisiko mengalami penyakit gigi dan mulut, Anda akan dianjurkan untuk periksa gigi setiap 3 bulan sekali.

Anak-anak juga disarankan untuk rutin cek gigi setiap 6 bulan sekali, mulai dari usia 6-7 bulan ketika gigi susu pertama mereka sudah tumbuh, Selanjutnya, teruslah membawa anak ke dokter gigi walaupun tidak ada keluhan apapun. Selain untuk kontrol berjangka, ini juga bertujuan untuk mengenalkan anak terhadap dokter gigi, perawat, klinik gigi agar nantinya tidak takut jika sewaktu-waktu butuh prosedur dental.

Apakah orang yang sudah lanjut usia juga masih perlu cek gigi?

Ya! Orang tua pastinya tetap perlu periksa gigi rutin. Penuaan tidak hanya menyebabkan rambut beruban dan kulit keriput, tapi juga memberikan efek tertentu pada gigi dan rongga mulut. Contohnya seperti gigi menjadi lebih mudah berlubang, mulut kering, gigi goyang, dan kehilangan gigi (ompong).

Itu sebabnya pemeriksaan gigi sangat penting untuk mengetahui masalah apa saja yang dialami dan bagaimana menanganinya dengan tepat, sehingga dapat meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup. Untuk lansia yang sudah memiliki banyak penyakit sistemik dan mengonsumsi obat-obatan yang memengaruhi kondisi gigi mulut, check up gigi mungkin butuh lebih sering lagi sesuai kebutuhan dan anjuran dokter.

 

Apa yang harus dipersiapkan sebelum periksa gigi rutin? Perlukah sikat gigi dulu sebelumnya?

Sebelum periksa gigi rutin ke dokter, boleh-boleh saja sikat gigi, namun tidak diwajibkan. Dokter gigilah yang nantinya akan membersihkan area mulut dan gigi Anda.

Yang perlu Anda lakukan adalah bersifat terbuka tentang kondisi mulut Anda dan menjawab jujur semua pertanyaan yang diajukan oleh dokter. Misalnya, jika dokter menanyakan tentang seberapa sering Anda sikat gigi sehari-hari, ada baiknya Anda jawab sejujur mungkin. Lalu jika ada keluhan, misalnya ada gigi yang sakit, sebisa mungkin menceritakan secara lengkap, contohnya sejak kapan keluhan tersebut muncul dan seberapa sakit rasa sakitnya.

Apa saja yang diperiksa selama periksa gigi reguler?

Saat pemeriksaan gigi rutin, dokter akan mengecek kondisi gigi Anda — apakah ada lubang gigi, patah, retak, tambalan gigi yang rusak, atau ada plak dan karang gigi. Plak dan karang gigi adalah sumber infeksi pada rongga mulut, sehingga bila ada dan parah harus segera dibersihkan. Dokter gigi juga akan menilai seberapa tinggi risiko Anda terhadap masalah gigi berlubang.

Dokter kemudian dapat memeriksa posisi gigi bungsu yang tumbuh miring atau lajur susunan gigi yang berantakan. Apabila setelah diperiksa masih perlu gambaran penunjang, dokter gigi akan menyarankan Anda menjalani rontgen gigi untuk merencanakan tindakan lebih lanjut.

Selain periksa gigi, dokter juga akan mengecek kondisi gusi dan jaringan pendukung gigi lainnya yang sangat berperan dalam kesehatan gigi. Mulai dari lidah, langit-langit, hingga persendian rahang. Ada masalah-masalah lain yang muncul pada jaringan penyangga gigi, seperti gusi berdarah, gusi bengkak, gusi turun, dan gigi goyang yang disebabkan karena gusi rusak, semuanya akan diperiksa. Nantinya dokter gigi akan memeriksa dan memberikan penanganan yang tepat.

Dokter gigi juga akan mengecek seberapa baik Anda merawat kesehatan mulut dan gigi. Dokter pun bisa mengjarkan Anda cara menggosok gigi yang benar, serta perawatan lainnya yang diperlukan untuk gigi sehat dan terawat. Tak lupa, dokter akan menanyakan kebiasaan harian Anda, seperti pola makan, merokok, parafungsi (kebiasaan sukagigit pensil, kuku, menggertakkan rahang, bruxism atau menggemeretak gigi) yang bisa berdampak buruk pada gigi.

 

Apa saja perawatan standar di rumah yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi?

Untuk merawat kesehatan gigi dan mulut serta terhindar dari berbagai risiko penyakit, sebaiknya mulai terapkan tiga hal ini setiap hari:

  • Terapkan sikat gigi 2 kali sehari dengan pasta gigi berfluoride, terutama saat pagi dan sebelum tidur. Lakukan selama 2 menit, pastikan seluruh permukaan gigi tersikat dari yang menghadap bibir dan pipi, permukaan kunyah, dan permukaan yang menghadap lidah atau langit-langit mulut
  • Memakai benang gigiatau sikat interdental pada celah antar gigi sekali dalam sehari. Anda juga bisa melakukan sikat lidah untuk menjaga kesehatan lidah dan menunjang kesehatan mulut.
  • Anda juga bisa mengunakan zat fluoride tambahan untuk mencegah gigi berlubang. Pada orang dengan risiko gigi berlubang tinggi, dianjurkan menggunakan obat kumur berfluoride. Sedangkan pada orang dengan risiko penyakit gusi yang tinggi, bisa menggunakan obat kumur antimikroba sesuai anjuran dokter.
  • Berkumur dengan obat kumur. Pilihlah yang tidak mengandung alkohol, karena bisa membuat mulut kering. Namun, Anda tidak disarankan untuk berkumur lebih dari 2 minggu berturut-turut.

Jangan lupa juga makan makanan yang bergizi tinggi (mengandung kalsium, fosfor, dan serat) serta batasi konsumsi makanan dan minuman manis. Selain itu, perbanyak minum air putih untuk meningkatkan produksi air liur untuk membersihkan dan melembapkan mulut. Hindari merokok untuk menjaga warna gigi tetap cerah.

Hindari menyikat gigi terlalu keras untuk mencegah gusi turun. Tidak dianjurkan juga menyikat gigi langsung sehabis selesai makan, karena ini bisa mengikis lapisan email gigi. Hindari juga menggigit benda atau makanan yang terlalu keras dengan kencang.

Rutin periksa kesehatan gigi Anda ke dokter gigi juga merupakan salah satu cara perawatan dan pencegahan yang tepat. Segera kunjungi dokter gigi ketika merasa ada keluhan seperti lubang kecil atau gusi berdarah sebelum rasa sakit muncul. Bila ada gigi yang berlubang, segera tambal lubang gigi. Salam sehat!


Desain-tanpa-judul.png

Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN)
>>> GRATIS, AMAN, BERKUALITAS <<<

Sasaran:
• Usia 9 – 59 bulan tambahan imunisasi campak rubella tanpa memandang status imunisasinya
• Usia 12 – 59 bulan imunisasi kejar untuk melengkapi imunisasinya (OPV, IPV, dan DPT/HB/HIB)

Lokasi Imunisasi : Lt. 5 Gedung Graha RS Islam Surabaya -A.Yani
Pelaksanaan : Mulai Bulan Agustus 2022

Yuk, Lindungi Anak Indonesia dari penyakit-penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi!

Sumber : RSI A.Yani


Copyright by Markbro 2025. All rights reserved.