Mengenal-Pengertian-Asma-dan-Pemicu-Asma.png
10/Jan/2026

Asma adalah sebuah penyakit dimana terjadinya peradangan kronik saluran napas yang menyebabkan terjadinya penyempitan dan hipereaktivitas saluran napas. Meski lebih sering ditemukan pada usia anak-anak dan dewasa muda, namun asma merupakan penyakit yang dapat menyerang semua umur.

Melihat kondisi demikian, penting bagi kita untuk selalu waspada, karena asma termasuk kedalam penyakit yang tidak dapat sembuh, dan hanya dapat dikendalikan agar gejala tidak muncul dan dapat hidup normal.

Meski proses pemicu terjadinya asma pada setiap orang memiliki perbedaan, namun berikut ini adalah beberapa faktor pemicu asma yang harus diwaspadai bersama, diantaranya adalah:

  1. Tungau debu rumah

  2. Perubahan cuaca

  3. Bulu binatang

  4. Bau-bauan yang menusuk

  5. Obat-obat tertentu

  6. Asap rokok

  7. Asap rumah tangga

  8. Emosi berlebihan

  9. Kelelahan fisik

  10. Serbuk sari bunga

Dengan mengetahui beberapa pemicu asma diatas, diharapkan mampu memberikan peringatan bagi para penderita asma untuk berhati-hati apabila berada pada kondisi di atas.

Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta bersegera dalam melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila membutuhkan penanganan khusus dalam mengendalikan asma yang diderita, agar bisa segera mendapatkan penanganan sedini mungkin.

 

Sumber : AyoSehat


5-Penyebab-Radang-Tenggorokan.png
09/Jan/2026

Radang tenggorokan merupakan salah satu penyakit yang umum di tengah masyarakat. Biasanya, radang tenggorokan ditandai dengan adanya penebalan atau pembengkakan pada dinding tenggorokan, berwarna kemerahan, hingga munculnya bintik putih yang disertai dengan datangnya nyeri pada saat menelan makanan dan minuman.

Tidak perlu khawatir, meski rasa sakit pada tenggorokan merupakan salah satu gejala Covid-19, namun hal tersebut bukan satu-satunya penyebab dari radang tenggorokan. Berikut ini adalah beberapa penyebab dari radang tenggorokan yang harus kamu ketahui, diantaranya adalah:

  1. Virus

  2. Difteri (infeksi bakteri pada hidung dan tenggorokan)

  3. Batuk dan pilek yang menyebabkan tenggorokan teriritasi

  4. Alergi

  5. Merokok

Dengan mengetahui beberapa penyebab dari radang tenggorokan diatas, diharapkan kamu tidak terlalu khawatir, sehingga dapat melakukan tindakan penanganan yang sesuai. Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat, agar bisa mendapatkan penanganan secara cepat, tepat, dan sesuai dengan diagnosa dari gejala yang muncul.

Tetap jaga protokol kesehatan 5M dan bersegera dalam mengikuti kegiatan vaksinasi Covid-19 dosis lengkap dan booster untuk meminimalisir hospitalisasi dan kematian akibat Covid-19. Selain itu, dengan mengikuti vaksinasi, kamu juga bisa berpartisipasi dalam membentuk Herd Immunity atau kekebalan secara berkelompok di tengah masyarakat.

 

Sumber : AyoSehat


4-Gejala-Umum-Tubuh-Mengalami-Dehidrasi.png
08/Jan/2026

Kurangnya kadar air dalam tubuh dapat menjadi ancaman dehidrasi dan berbahaya bagi tubuh. Dehidrasi adalah kondisi dimana seseorang kehilangan lebih banyak cairan dalam tubuh daripada yang mereka terima.

Dehidrasi tidak hanya dapat dirasakan oleh orang dewasa, namun juga oleh bayi, anak-anak hingga orang tua. Pada kenyataannya, terdapat variasi gejala dehidrasi yang dialami, dan tergantung dari tingkat keparahannya sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa tubuhnya telah mengalami dehidrasi.

Untuk itu, mengetahui gejala umum dehidrasi menjadi penting untuk diketahui untuk menghindari bahaya dehidrasi seperti merusak fungsi ginjal, meningkatkan risiko terkena batu ginjal, hingga menyebabkan kerusakan otot.

Gejala Dehidrasi yang Harus Diwaspadai

Berikut ini adalah 4 gejala umum seseorang mengalami dehidrasi, diantaranya adalah:

  1. Merasa Pusing

  2. Kelelahan/kurang energi

  3. Buang air kecil dengan intensitas jarang

  4. Merasa kering pada daerah mulut bibir dan mata.

Dengan mengetahui gejala dehidrasi diatas, diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaan serta kesadaran terhadap diri sendiri untuk mau mencukupi kebutuhan cairan pada tubuh. Konsumsi air putih yang disarankan untuk orang dewasa adalah 2 liter per hari. Selain dari minuman, makanan juga dapat memberikan asupan cairan pada tubuh yaitu sekitar 20% yang dapat diperoleh dari buah dan sayur, misalnya bayam dan semangka yang mengandung 90% air.

Tetap terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk menjaga kesehatan. Segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit yang timbul akibat dehidrasi, agar bisa segera mendapatkan penanganan secara cepat dan cepat oleh petugas kesehatan.

Sumber : AyoSehat


Mengenal-Penyakit-Tidak-Menular-dan-Pencegahannya.png
07/Jan/2026

Menjaga kesehatan tubuh merupakan salah satu hal penting bagi kita untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik di masa yang akan datang. Karena hanya dengan demikian, tubuh akan bisa terhindar dari berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan saat harian kita menjalankan aktivitas sehari-hari.

Menurut jenisnya, penyakit dibedakan menjadi dua, yaitu penyakit menular dan penyakit tidak menular. Penyakit menular adalah perpindahan penyakit dari orang yang sakit ke orang yang sehat. Sedangkan penyakit tidak menular adalah sebuah penyakit yang tidak mengalami proses pemindahan dari orang lain, namun menjadi penyebab kematian paling banyak bagi masyarakat.

Macam-Macam Penyakit Tidak Menular

Berikut ini adalah berbagai macam penyakit yang tergolong tidak menular, diantaranya adalah;

  1. Penyakit jantung

  2. Kanker

  3. Diabetes

  4. Penyakit paru kronik

  5. Stroke.

Cara Mencegah Penyakit Tidak Menular

Melihat bahaya yang ditimbulkan dari berbagai penyakit yang tidak menular tersebut, maka penting bagi kita untuk mengetahui cara pencegahan penyakit tidak menular, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Batasi konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan

  2. Rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit dalam sehari

  3. Tidak merokok atau terpapar asap dan residu rokok

  4. Jaga berat badan ideal dan cegah obesitas

  5. Cek kesehatan secara teratur

Dengan menjalankan berbagai cara mencegah penyakit tidak menular tersebut, diharapkan mampu meminimalisir kemungkinan terserang penyakit yang akan mengganggu segala aktivitas kita.

Tetap terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat apabila mengalami gejala penyakit, agar bisa segera mendapatkan penanganan secara cepat dari petugas kesehatan.

Sumber : AyoSehat


Mengenal-Dampak-Psikososial-pada-Anak-yang-Obesitas.png
06/Jan/2026

besitas merupakan salah satu masalah kesehatan yang tidak hanya dapat menyerang kategori umur tertentu. Sehingga dengan demikian, baik lansia, dewasa, hingga anak-anak dapat berpeluang mengalami penyakit obesitas tersebut.

Pada kelompok usia anak sendiri, obesitas tidak hanya memiliki efek buruk bagi kesehatan seperti penyakit paru-paru dan kaki bengkok akibat penimbunan berat badan yang sangat masif, namun juga akan menyebabkan efek psikososial yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak tersebut.

5 Dampak Psikosisal Pada Anak yang Mengalami Obesitas

Berikut ini adalah 5 dampak psikosisial yang akan dirasakan oleh anak yang mengalami obesitas, diantaranya adalah:

  1. Gerakan pada tubuh akan menjadi lamban, sehingga dapat menyebabkan penurunan aktivitas.

  2. Mengurangi rasa percaya diri pada anak

  3. Memiliki penampilan yang kurang menarik

  4. Akan menjadi bahan ejekan bagi teman disekitarnya

  5. Dikhawatirkan akan menarik diri dari pergaulan

Dengan memahami dampak psikosisal yang akan dialami oleh anak yang mengalami obesitas, diharapkan para orangtua dapat mengarahkan buah hatinya untuk dapat menerapkan perilaku hidup sehat, seperti makan makanan yang memiliki gizi seimbang, rutin melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit perhari, hingga menjaga siklus tidur pada anak.

Segera lakukan pemeriksaan atau konsultasi kepada dietisien atau ahli gizi spesialis program diet terdekat apabila orang tua membutuhkan arahan dan bimbingan untuk membuat program diet yang cocok untuk anak.

Sumber : AyoSehat


5-Faktor-Pemicu-Gejala-Serangan-Jantung.png
05/Jan/2026

Serangan jantung adalah salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di dunia dan dikenal sebagai sebutan pembunuh secara diam-diam. Sebutan ini dikarenakan gejalanya kerap datang tiba-tiba dan banyak terjadi dalam kasus yang parah. Penyebab serangan jantung bahkan kerap diabaikan karena dianggap sebagai kebiasaan yang susah untuk dihilangkan.

Serangan jantung salah satunya disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat dan kebiasaan buruk yang dilakukan sehari-hari. Untuk mencegahnya, ketahui potensi yang dapat memicu terjadinya serangan jantung agar dapat mencegah dan penanganan sedini mungkin.

Pemicu Gejala serangan Jantung.

Berikut ini adalah beberapa pemicu serangan jantung yang wajib diketahui, diantaranya adalah:

  1. Faktor usia

Adanya penambahan usia pada seseorang, maka semakin bertambah pula risiko penyakit jantung.

  1. Adanya riwayat penyakit jantung dalam keluarga.

Apabila terdapat salah satu keluarga inti kita yang memiliki riwayat sakit jantung, maka potensi penyakit jantung juga besar terhadap kita.

  1. Obesitas (Kegemukan)

Selain dapat memicu berbagai penyakit berbahaya lainnya, obesitas juga dapat menjadi salah satu pemicu seseorang terkena penyakit jantung.

  1. Pola hidup yang buruk.

Kurangnya berolahraga, merokok, dan berbagai aktivitas yang buruk bagi kesehatan  juga dapat memicu seseorang  terserang penyakit jantung.

  1. Stres

Ketika seseorang mengalami stres, maka tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol yang berakibat pada kakunya pembuluh darah seseorang.

Cara Mencegah Penyakit Jantung

Dengan mengetahui berbagai pemicu penyakit jantung diatas, diharapkan masyarakat dapat melakukan tindakan preventif dengan menerapkan perilaku hidup sehat, rutin berolahraga, menghindari stres yang berlebihan saat berada di kantor maupun rumah, dan rutin mengkonsumsi antioksidan yang bisa didapatkan dengan makan buah dan sayur.

Tetap terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta bersegera dalam melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami mengalami gejala penyakit jantung, agar bisa segera mendapatkan penanganan secara cepat dan tepat.

Sumber : AyoSehat


11-Hal-tentang-Penyakit-Hirschsprung-yang-Perlu-Anda-Ketahui.png
03/Jan/2026

Penyakit Hirschsprung adalah kondisi yang tampaknya sederhana namun menyimpan kompleksitas biologis yang mendalam. Bayangkan usus sebagai jalan raya yang dilalui oleh makanan menuju pembuangan. Pada penderita HSCR, sebagian jalan raya ini tidak dilengkapi lampu lalu lintas sel ganglion yang seharusnya mengatur pergerakan usus. Akibatnya, pergerakan terhenti, dan kemacetan terjadi. Berikut ini 11 tanya-jawab tentang Penyakit Hirschsprung yang perlu Anda ketahui.

Apa itu penyakit Hirschsprung?

Penyakit Hirschsprung adalah kelainan bawaan lahir yang terjadi ketika sebagian usus besar (kolon) tidak memiliki sel saraf yang disebut ganglion. Sel-sel saraf ini penting untuk mengendalikan gerakan usus. Tanpa sel ganglion, bagian usus tersebut tidak dapat berkontraksi dan menggerakkan tinja, yang menyebabkan obstruksi atau penyumbatan usus.

Apa penyebab penyakit Hirschsprung?

Penyebab utama penyakit Hirschsprung adalah kegagalan perkembangan sel saraf ganglion di dinding usus selama masa janin. Kondisi ini diyakini terkait dengan mutasi genetik tertentu dan dapat terjadi secara sporadis atau diturunkan dalam keluarga.

Secara genetik, penyebab utama Penyakit Hirschsprung berakar pada gangguan sinyal RET, gen yang seharusnya mengarahkan sel-sel saraf untuk mencapai usus bagian bawah. Ketika sinyal ini gagal, sel-sel saraf mati sebelum tiba di tempat tujuan, meninggalkan bagian usus tanpa kontrol saraf yang memadai. Tidak hanya RET, gen EDNRB dan EDN3 turut berkontribusi pada hambatan migrasi sel saraf, memperburuk kondisi. Selain itu, mutasi pada gen SOX10 dapat mempengaruhi perkembangan sel saraf secara keseluruhan, bahkan mengaitkannya dengan sindrom lain.

Secara histologis, ciri khas Penyakit Hirschsprung adalah tidak adanya sel ganglion di area yang terdampak, serta penebalan serabut saraf yang berusaha mengompensasi kekosongan tersebut.

Apa saja gejala penyakit Hirschsprung?

Gejala utama penyakit Hirschsprung dapat bervariasi berdasarkan usia penderita:

  • Pada bayi baru lahir: Tidak buang air besar dalam 48 jam pertama setelah lahir, muntah hijau atau coklat, perut buncit, dan rewel.
  • Pada anak-anak: Sembelit kronis, pertumbuhan terhambat, infeksi usus (enterokolitis), dan tinja berbau busuk.
  • Pada remaja dan dewasa: Sembelit parah, kembung, dan nyeri perut kronis.

Intinya, secara klinis, kondisi penderita penyakit Hirschsprung ini termanifestasi dalam sembelit kronis yang berulang, perut kembung, hingga risiko infeksi usus yang meningkat. Penyakit Hirschsprung bukanlah sekadar gangguan buang air besar ini adalah kondisi genetik kompleks yang memerlukan intervensi medis intensif sejak dini. Dengan memahami mekanisme molekuler di baliknya, harapannya pengobatan yang lebih efektif dapat dikembangkan untuk mengatasi gangguan saraf usus yang menyebabkan derita berkepanjangan ini.

Bagaimana cara mendiagnosis penyakit Hirschsprung?

Diagnosa dilakukan melalui beberapa pemeriksaan berikut:

  • Pemeriksaan fisik: Dokter akan meraba perut untuk mendeteksi pembengkakan usus.
  • Foto Rontgen atau X-ray perut untuk melihat adanya penyumbatan.
  • Biopsi rektum untuk mengambil sampel jaringan usus dan memeriksa keberadaan sel ganglion.
  • Manometri anorektal untuk mengukur fungsi saraf di sekitar anus.

Apa saja jenis penyakit Hirschsprung?

Penyakit Hirschsprung dapat dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan panjang segmen usus yang terkena:

  • Hirschsprung Segmen Pendek (Short-Segment): Hanya sebagian kecil usus yang terkena.
  • Hirschsprung Segmen Panjang (Long-Segment): Sebagian besar usus besar terkena.
  • Total Colon Aganglionosis: Seluruh usus besar tidak memiliki sel ganglion.

Bagaimana pengobatan penyakit Hirschsprung?

Pengobatan utama penyakit Hirschsprung adalah pembedahan. Ada dua jenis operasi utama:

  • Pull-through Surgery: Bagian usus yang tidak memiliki sel ganglion diangkat, dan bagian usus yang sehat disambungkan ke anus.
  • Kolostomi: Lubang buatan dibuat di perut untuk mengeluarkan tinja sementara, sebelum operasi pull-through.

Apa risiko dan komplikasi dari penyakit Hirschsprung?

Komplikasi yang dapat terjadi meliputi:

  • Enterokolitis Hirschsprung: Infeksi berat pada usus yang dapat mengancam nyawa.
  • Sembelit kronis pasca operasi.
  • Inkontinensia atau kesulitan mengontrol buang air besar.

Apakah penyakit Hirschsprung dapat disembuhkan?

Ya, penyakit Hirschsprung dapat disembuhkan melalui operasi. Namun, beberapa pasien mungkin masih mengalami masalah pencernaan seperti sembelit atau infeksi usus meskipun setelah operasi.

Bagaimana prognosis pasien dengan penyakit Hirschsprung?

Dengan perawatan yang tepat, prognosisnya umumnya baik. Sebagian besar anak dapat hidup normal meskipun ada risiko komplikasi jangka panjang seperti sembelit kronis atau enterokolitis.

Apa yang dapat dilakukan orang tua jika anaknya didiagnosis dengan penyakit Hirschsprung?

Orang tua harus bekerja sama dengan tim medis untuk memahami rencana perawatan, menjalani operasi sesuai jadwal, serta memastikan pemantauan pasca operasi yang ketat untuk mencegah komplikasi.

Bagaimana potensi regenerative medicine di masa mendatang di dalam mengatasi Penyakit Hirschsprung?

Berbicara tentang regenerative medicine, maka kita tentunya membahas potensi terapi stem cell, terapi gen, nanoteknologi, organoid, dan CRISPR dalam mengatasi penyakit Hirschsprung. Berikut ini penjelasannya.

  1. Terapi Sel Punca (Stem Cell)

    • Terapi berbasis sel induk (stem cell) bertujuan untuk menggantikan sel ganglion enterik yang hilang akibat penyakit Hirschsprung. Sel induk pluripoten yang diinduksi (iPSCs) telah digunakan untuk membentuk model penyakit dan menunjukkan kemampuan diferensiasi menjadi sel neural crest yang dapat bermigrasi dan berfungsi sebagai neuron enterik (Lui et al., 2018).
  2. Gene Therapy

    • Terapi gen menggunakan CRISPR/Cas9 untuk mengoreksi mutasi genetik yang menyebabkan Hirschsprung. Teknik ini telah digunakan untuk mengoreksi mutasi Sox10 dalam model tikus dan mengembalikan fungsi neural crest cells (NCCs) yang terganggu (Li et al., 2018).
  3. Nanoteknologi

    • Nanoteknologi dapat digunakan untuk pengiriman terapi gen secara spesifik ke sel target. Sebagai contoh, nanopartikel DNA telah digunakan untuk mengirimkan editor genetik (ABE) ke sel hematopoietik CD34+ untuk memperbaiki mutasi genetik (Liang et al., 2024). Kombinasi nanobubbles dengan terapi – pendekatan lainnya berpotensi mengatasi penyakit Hirschsprung.
  4. Organoid

    • Organoid berbasis iPSCs dapat digunakan sebagai model untuk mempelajari patogenesis Hirschsprung serta sebagai sumber potensial sel untuk transplantasi guna menggantikan neuron enterik yang hilang (Conner et al., 2023).
  5. CRISPR/Cas9

    • CRISPR/Cas9 telah digunakan untuk mengoreksi mutasi genetik yang terkait dengan Hirschsprung, termasuk mutasi RET dan Sox10. Koreksi genetik ini mengembalikan fungsi NCCs dan berpotensi mengatasi aganglionosis pada usus (Lai et al., 2017).

Pendekatan berbasis stem cell, terapi gen, nanoteknologi, organoid, dan CRISPR menunjukkan potensi besar dalam mengatasi Hirschsprung melalui penggantian sel ganglion, koreksi genetik, dan peningkatan fungsi neural crest cells.

Konklusi dan Rekomendasi

Penyakit Hirschsprung adalah kelainan genetik kompleks yang ditandai oleh ketiadaan sel ganglion di sebagian usus, menyebabkan gangguan pergerakan usus dan risiko obstruksi. Penanganan utama berupa pembedahan pull-through dan kolostomi, meskipun risiko komplikasi seperti enterokolitis dan sembelit kronis tetap ada. Terapi berbasis regenerative medicine, termasuk sel punca, terapi gen, nanoteknologi, organoid, dan CRISPR, menunjukkan potensi besar dalam mengatasi kondisi ini dengan menggantikan sel ganglion yang hilang dan memperbaiki mutasi genetik. Orang tua dan pasien disarankan untuk mengikuti rencana perawatan medis secara ketat dan menjaga pemantauan pasca operasi guna mencegah komplikasi serta memanfaatkan perkembangan terapi regeneratif di masa mendatang.

 

Sumber : Ayosehat


Dinamika-iklim-dan-stres-merespon-keduanya-dari-sebuah-riset.png
02/Jan/2026

Saat ini musim sudah tidak bisa diprediksi dengan akurat, seiring dengan tantangan perubahan lingkungan global, kadang panas terik kemudian tiba-tiba hujan deras. Kondisi demikian memungkinkan kita lebih rentan terhadap penyakit menular, seperti flu yang umum dijumpai. Ditambah lagi, rutinitas yang kadang bikin stres. Hal tersebut tentunya dapat memperburuk kondisi kesehatan kita. Everything psychological is biological. Betul sekali, fisik dan mental menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Tahukah kalian bahwa stres juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik? Sebuah studi eksperimen berusaha menjawab pertanyaan ini.

Cohen dan koleganya pada tahun 1993 melakukan riset untuk mengetahui apakah individu yang melaporkan tingkat stress yang lebih tinggi berpotensi sakit setelah terpapar virus infuenza daripada individu dengan tingkat stress yang lebih rendah? Peneliti melakukan sebuah studi eksperimen, melibatkan 420 partisipan sehat (154 pria dan 266 wanita) di Salisbury, Inggris dengan rentang usia 18 hingga 54 tahun.

Partisipan dibagi menjadi 2 grup; 394 partisipan diberikan nasal drops (tetes hidung) yang mengandung salah satu dari lima virus pernapasan (rhinovirus tipe 2, 9, atau 14, virus sinsitial pernapasan, atau coronavirus tipe 229E) sebagai grup eksperimen dan 26 partisipan tambahan diberikan saline nasal drops (tetes hidung saline) tanpa virus sebagai grup kontrol. Setelah itu, seluruh partisipan diminta untuk menyelesaikan kuesioner yang menilai stres psikologis.

Mereka kemudian dikarantina (sendirian atau bersama orang lain) dan dipantau untuk melihat perkembangan tanda-tanda infeksi, serta gejala. Setiap hari, partisipan diperiksa profesional medis dengan mencatat suhu tubuh, mengumpulkan sampel nasal wash (pencuci hidung) dan jumlah kertas tissue yang digunakan. Sampel darah juga diambil 28 hari setelah intervensi paparan virus. Kriteria peserta yang menderita dan didiagnosis flu klinis ditentukan oleh profesional medis. Tidak terdapat peserta pada grup kontrol yang memenuhi kriteria menderita flu klinis sehingga tidak diikutsertakan dalam analisis. Apakah kalian sudah bisa menebak hasilnya?

Temuan penelitian ini menggambarkan:

  1. Peristiwa hidup negatif, stres yang dirasakan, dan afek negatif (seperti suasana hati buruk) dikaitkan dengan peningkatan risiko terkena flu.
  2. Kelompok yang terpapar virus dan dikarantina sendirian, para peneliti menemukan bahwa partisipan yang memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dan mengalami lebih banyak peristiwa negatif dalam hidupnya lebih mungkin memenuhi kriteria penyakit klinis daripada partisipan dengan tingkat stres yang lebih rendah.

Dari penelitian ini bisa kita simpulkan stres psikologis dapat melemahkan respons imun tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap penyakit menular seperti flu. Studi ini mendukung teori bahwa kesehatan mental dan fisik saling terkait, dengan stres sebagai faktor risiko penting terkait penyakit infeksi. Oleh karena itu, yuk healthies kendalikan pikiran dan lebih aktif lagi secara fisik untuk melawan berbagai penyakit.

 

Sumber : AyoSehat


Legal-Audit-Remunerasi-di-Rumah-Sakit-Updata-2025.png
30/Dec/2025

A. Ringkasan Legal Audit

Objek audit: Kebijakan/Perdir/SK Direktur, pedoman teknis, SOP, serta praktik penghitungan & pembayaran imbal jasaTenaga Medis/Tenaga Kesehatan di RS.
Tujuan: memastikan kebijakan dan implementasi sesuai norma:

  1. Output-based & kesepakatan (Permenkes 13/2025 Pasal 221),
  2. Unit cost + clinical pathway (Permenkes 13/2025 Pasal 222),
  3. keseimbangan hak RS (UU 17/2023 Pasal 191 b) dan hak tenaga (UU 17/2023 Pasal 273(1)c; PP 28/2024 Pasal 721 c),
  4. parameter “layak” & faktor pemberian (PP 28/2024 Pasal 725–726),
  5. kepatuhan proporsi belanja (jika BLU/BLUD: Permenkes 12/2013 Pasal 28; Permenkes 85/2015 Pasal 24),
  6. konsistensi dengan struktur tarif (jasa sarana vs jasa pelayanan; Pasal 15–19), dan
  7. ketentuan pendapatan RS pemerintah untuk operasional (UU 17/2023 Pasal 195).

Output audit: temuan kepatuhan, gap, risiko hukum, rekomendasi perbaikan, dan audit trail dokumen & data.

B. Dasar Hukum (Kriteria Audit)

Kriteria audit adalah pasal yang Anda cantumkan, diringkas menjadi “kewajiban/kriteria uji”:

  1. Permenkes 13/2025 Pasal 221
    • Imbal jasa berbasis satuan hasil; mempertimbangkan jumlah pasien dan jenis layanandisepakati antara pimpinan fasyankes/pemberi kerja dengan tenaga.
  2. Permenkes 13/2025 Pasal 222
    • Penghitungan dapat memakai unit cost dengan clinical pathway untuk diagnosis/perawatan.
  3. UU 17/2023 Pasal 191 huruf b
    • RS berhak menerima imbal jasa pelayanan serta menentukan remunerasi/insentif/penghargaan sesuai peraturan.
  4. UU 17/2023 Pasal 273(1) huruf c dan PP 28/2024 Pasal 721 huruf c
    • Tenaga berhak atas gaji/upah, imbal jasa, dan tunjangan kinerja yang layak.
  5. PP 28/2024 Pasal 725–726 + Penjelasan 725
    • Rezim pemberian tergantung kepemilikan (milik masyarakat vs pemerintah), ada THR, dan faktor kelayakan: pendidikan, kompetensi, masa kerja, beban kerja, produktivitas/kinerja, risiko, jenjang karier, tempat bertugas, dll. “Layak” = mampu memenuhi kebutuhan hidup wajar.
  6. Permenkes 12/2013 Pasal 28(bila BLU RS)
    • Proporsi: biaya pegawai maks 44%; operasional+investasi min 56% (komponen remunerasi termasuk jasa pelayanan, insentif, dll).
  7. Permenkes 85/2015 Pasal 24(3)(bila BLUD)
    • Belanja barang/jasa & belanja modal min 40% dengan memperhatikan keberlangsungan pelayanan.
  8. Ketentuan tarif (Pasal 15–19)
    • Tarif terdiri dari jasa sarana dan jasa pelayanan; rumus jasa sarana berdasar total biaya sarana/volume; tarif rawat jalan/ inap/ darurat berdasar BEP dan asas kepatutan.
  9. UU 17/2023 Pasal 195(RS Pemerintah Pusat/Daerah)
    • Pendapatan RS dipakai langsung untuk biaya operasional RS dan bukan pendapatan negara/daerah.

C. Metodologi Audit (Cara Uji)

1) Uji Dokumen (documentary compliance test)

  • SK/Perdir imbal jasa, pedoman teknis, SOP, lampiran rumus, kamus data, dokumen tarif RS, perjanjian kerja/PKB (untuk RS milik masyarakat), regulasi internal BLU/BLUD (bila relevan).

2) Uji Substansi (substantive test)

  • uji perhitungan: unit cost, poin/koefisien, pembentukan “pool” jasa pelayanan, distribusi per profesi/unit, pembuktian “satuan hasil”.

3) Uji Implementasi (walkthrough & sampling)

  • telusur 1 siklus periode (misal 1 bulan): data pasien → klaim/pendapatan → pemisahan jasa sarana/jasa pelayanan → pool → distribusi → pembayaran → pencatatan akuntansi.

4) Wawancara kunci

  • Direktur/Keuangan/SDM, SPI, Komite Medik/Komite Tenaga Kesehatan, Casemix, Unit Akuntansi Biaya/Costing, Farmasi/Lab (untuk validasi biaya).

D. Matriks Audit Kepatuhan (Checklist Legal Audit)

Gunakan tabel berikut sebagai working paper audit.

1) Legalitas Kebijakan & Kesepakatan (Pasal 221; PP 725(1))

Kriteria: imbal jasa berbasis satuan hasil dan disepakati tertulis antara RS/pemberi kerja dengan tenaga.
Bukti yang wajib ada:

  • Perdir/SK Direktur tentang kebijakan imbal jasa (definisi, ruang lingkup, periode, formula, mekanisme keberatan).
  • Dokumen kesepakatan: perjanjian kerja/PP/PKB atau lampiran kebijakan yang ditandatangani perwakilan tenaga/unit.
    Pertanyaan audit:
  • Apakah “satuan hasil” didefinisikan (kunjungan, tindakan, episode perawatan, case-mix)?
  • Apakah parameter “jumlah pasien” dan “jenis layanan” dipakai dalam rumus?
    Temuan umum (red flag):
  • Kebijakan hanya “pembagian persentase” tanpa definisi satuan hasil dan tanpa dokumen kesepakatan.

2) Unit Cost & Clinical Pathway (Pasal 222)

Kriteria: perhitungan dapat menggunakan unit cost berbasis clinical pathway diagnosis/perawatan.
Bukti wajib:

  • Daftar clinical pathway (minimal high-volume/high-cost).
  • Dokumen unit cost (metodologi, periode, asumsi, sumber data biaya, update cycle).
    Pertanyaan audit:
  • Apakah pathway disahkan (komite terkait) dan digunakan untuk costing?
  • Apakah unit cost memuat komponen biaya (SDM, BMHP/obat, penunjang, overhead) dan dapat ditelusuri?
    Red flag:
  • Unit cost dibuat “sekali” tanpa pembaruan, tidak ada sumber data biaya/overhead, atau pathway hanya formalitas dan tidak dipakai dalam hitung.

3) Pemisahan Jasa Sarana vs Jasa Pelayanan (Pasal 15–16)

Kriteria: tarif pelayanan terdiri atas jasa sarana dan jasa pelayanan; jasa pelayanan adalah imbalan bagi pemberi pelayanan.
Bukti wajib:

  • Dokumen tarif resmi RS yang memisahkan komponen.
  • Mapping pendapatan layanan ke “pool” jasa sarana dan “pool” jasa pelayanan.
    Pertanyaan audit:
  • Apakah imbal jasa tenaga diambil dari komponen jasa pelayanan, bukan “menggerus” biaya sarana tanpa penguncian?
    Red flag:
  • Pembayaran jasa pelayanan tanpa rekonsiliasi tarif/komponen; RS tidak bisa menjelaskan sumber pool.

4) Kepatutan Tarif & BEP (Pasal 18)

Kriteria: rawat jalan reguler = BEP; non-reguler > reguler (kepatutan); rawat inap kelas II = BEP; IGD > BEP (kepatutan).
Bukti wajib:

  • Dokumen perhitungan BEP & dasar asas kepatutan.
    Pertanyaan audit:
  • Apakah kebijakan imbal jasa mempertimbangkan perubahan tarif/BEP agar tidak menciptakan defisit sarana?
    Red flag:
  • Imbal jasa naik tapi tarif/BEP tidak pernah dihitung ulang → risiko keberlanjutan dan sengketa.

5) Rumus Jasa Sarana (Pasal 19)

Kriteria: jasa sarana dihitung total biaya sarana/volume kegiatan.
Bukti wajib:

  • Total biaya sarana, volume kunjungan, volume rawat inap per kelas, volume IGD.
    Pertanyaan audit:
  • Apakah data volume valid (SIMRS) dan konsisten dengan laporan keuangan?
    Red flag:
  • Volume berbeda antara SIMRS, casemix, dan keuangan; membuka ruang manipulasi “satuan hasil”.

6) Hak RS Menentukan Remunerasi vs Hak Tenaga “Layak” (UU 191; UU 273; PP 721; PP 725 Penjelasan)

Kriteria: RS boleh menentukan skema; namun harus memastikan tenaga menerima penghasilan “layak”.
Bukti wajib:

  • Struktur penghasilan: gaji/upah + imbal jasa + tunjangan kinerja + THR.
  • Bukti kebijakan penjamin “kelayakan minimal” (misal batas bawah, ketentuan penyesuaian, atau indikator kelayakan).
    Pertanyaan audit:
  • Apakah ada uji kelayakan (living wage approach/benchmark wajar) sesuai penjelasan 725?
    Red flag:
  • Skema sangat variatif tanpa perlindungan minimal; berpotensi perselisihan hubungan kerja.

7) Faktor Penetapan (PP 726)

Kriteria: pemberian mempertimbangkan pendidikan, kompetensi, masa kerja, beban kerja, produktivitas/kinerja, risiko, jenjang karier, tempat tugas, dll.
Bukti wajib:

  • Matriks koefisien/bobot (competency/risk/shift/remote).
  • Indikator kinerja yang terukur dan sumber datanya.
    Pertanyaan audit:
  • Apakah faktor 726 diterjemahkan menjadi parameter objektif dan audit-able?
    Red flag:
  • “Koefisien” diputuskan ad hoc tanpa definisi; rawan tuduhan diskriminatif.

8) Badan Hukum Kepemilikan Fasyankes (PP 725)

Kriteria:

  • milik masyarakat: sesuai perjanjian kerja/PP/PKB;
  • milik pemerintah: sesuai ketentuan peraturan;
  • penugasan program pemerintah: insentif;
  • THR: sesuai ketentuan.
    Bukti wajib:
  • Dokumen status RS (milik masyarakat/pemerintah, BLU/BLUD), dokumen kepegawaian, dasar pemberian insentif program.
    Red flag:
  • RS milik masyarakat menerapkan skema sepihak tanpa PP/PKB; RS pemerintah membuat komponen yang tidak punya dasar.

9) Proporsi Belanja (BLU/BLUD) – Keberlanjutan Pelayanan (Permenkes 12/2013; Permenkes 85/2015)

Kriteria: guardrail belanja pegawai vs operasional/investasi.
Bukti wajib:

  • Realisasi belanja pegawai vs total pendapatan BLU (maks 44%).
  • Belanja barang/jasa + modal minimal 40% (BLUD).
    Red flag:
  • Imbal jasa mendorong belanja pegawai melampaui batas → risiko temuan auditor eksternal.

10) Pendapatan RS Pemerintah untuk Operasional (UU 195)

Kriteria: pendapatan digunakan langsung untuk biaya operasional dan bukan PAD/pendapatan negara/daerah.
Bukti wajib:

  • Kebijakan akuntansi, alur kas, dan bukti penggunaan.
    Red flag:
  • Setoran/penarikan yang tidak sesuai desain UU 195 atau pencatatan yang tidak menggambarkan “langsung untuk operasional”.

E. Uji Petik (Sampling) yang Disarankan

Agar audit kuat, lakukan sampling minimal:

  1. 10 kasus rawat jalan, 10 rawat inap, 10 IGD (campur reguler/non-reguler; kelas II/III).
  2. 3 clinical pathway high-volume + 3 high-cost → uji: pathway → unit cost → tarif → jasa pelayanan → pembayaran.
  3. Rekonsiliasi 1 bulan: pendapatan layanan (casemix + non-casemix) vs pool jasa pelayanan vs pembayaran.
  4. 5 pegawai berbagai profesi/unit → uji faktor PP 726 (beban, risiko, lokasi, kompetensi) apakah konsisten.

F. Daftar Temuan yang Paling Sering Muncul (Risk Register Hukum)

  1. Tidak ada “kesepakatan” yang membuktikan Pasal 221 → risiko perselisihan hubungan kerja.
  2. Tidak ada/lembaran formal clinical pathway & unit cost (Pasal 222) → kebijakan tidak punya dasar teknis.
  3. Campur aduk jasa sarana vs jasa pelayanan → rawan temuan auditor (tarif tidak konsisten).
  4. Koefisien tidak objektif (PP 726) → risiko diskriminasi/ketidakadilan, konflik internal, gugatan.
  5. Tidak ada definisi “layak” dan tidak ada pengaman batas bawah → bertentangan semangat PP 725 + penjelasan.
  6. Proporsi belanja BLU/BLUD terlanggar → temuan kepatuhan keuangan dan keberlangsungan pelayanan.
  7. Data volume/satuan hasil tidak valid (SIMRS vs casemix vs keuangan) → risiko fraud/overpayment.

 

Sumber : Dr Galih Endradita M


Saat-Bencana-Terjadi-Cara-Menjaga-Tidur-Anak-Tetap-Berkualitas.png
19/Dec/2025

Bencana alam maupun situasi darurat sering kali membawa dampak besar bagi bayi dan balita. Perubahan lingkungan yang drastis, kehilangan rutinitas, serta paparan stres dapat mempengaruhi kondisi emosional dan fisik anak.

Pada banyak anak, hal ini tampak dalam bentuk stres, regresi perilaku (misalnya kembali rewel atau sulit ditinggal), serta perubahan pola tidur seperti sulit tidur, sering terbangun, atau mimpi buruk. Padahal, tidur merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting bagi tumbuh kembang dan pemulihan fisik serta mental anak.

Mengapa Gangguan Tidur Anak Pascabencana Bisa Terjadi?

Gangguan tidur pada anak pascabencana umumnya terjadi karena kombinasi beberapa faktor berikut:

  • Faktor emosional: Anak dapat merasakan ketakutan, kehilangan, atau kebingungan akibat perubahan yang terjadi. Ingatan traumatis, separation anxiety, dan rasa tidak aman membuat anak lebih waspada sehingga sulit untuk rileks dan tertidur.
  • Faktor lingkungan: Lingkungan pengungsian atau tempat tinggal sementara sering kali bising, padat, dengan penerangan yang kurang memadai. Suhu yang terlalu panas atau dingin serta keterbatasan kebersihan juga dapat mengganggu kenyamanan tidur anak.
  • Faktor fisik: Kelelahan, kurang asupan makan dan minum, kondisi tubuh yang tidak fit, hingga gangguan seperti gigitan serangga dapat membuat anak sulit tidur nyenyak.
  • Faktor sosial: Anak sangat peka terhadap emosi orang dewasa di sekitarnya. Melihat orang tua atau pengasuh yang stres, cemas, serta terpapar berita atau pembicaraan traumatis dapat meningkatkan kecemasan anak dan berdampak pada kualitas tidurnya.

Mengapa Tidur Penting dalam Fase Darurat?

Di masa darurat, tidur memiliki peran yang sangat krusial. Tidur membantu pemulihan fisik setelah kelelahan dan stres berkepanjangan, mendukung regulasi emosi anak, serta menjaga daya tahan tubuh agar tetap optimal.

Selain itu, tidur yang cukup membantu anak memiliki kemampuan coping yang lebih baik dalam menghadapi situasi sulit, sehingga ia lebih tenang, responsif, dan mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Langkah-Langkah Menjaga Kualitas Tidur Anak Pascabencana

1. Membentuk Rasa Aman

Kehadiran orang tua atau pengasuh yang responsif menjadi kunci utama. Dengarkan perasaan anak, validasi emosinya, dan yakinkan bahwa ia berada dalam kondisi aman. Kontak fisik seperti memeluk atau menemani anak juga membantu menenangkan. Saat anak merasa aman, kadar hormon stres akan menurun, sehingga tubuh lebih rileks dan anak lebih mudah untuk tidur.

2. Menciptakan Zona Tidur Sederhana yang Konsisten

Meski berada dalam keterbatasan, usahakan anak tidur di tempat yang sama setiap malam, termasuk saat harus bermalam di posko atau rumah sementara. Gunakan alas tidur yang sama secara konsisten, seperti selimut, jaket, atau tikar, agar anak memiliki rasa familiar

Kemudian jika memungkinkan, buat ‘batas’ ruang tidur menggunakan tas, selimut, atau bantal untuk memberi ilusi ruang pribadi. Parents juga bisa memasang kain atau selimut untuk menutup ‘ruang tidur’ anak ini agar tidak terlalu banyak cahaya yang masuk dan menghalangi lalu-lalang.

3. Tetap Menerapkan Bedtime Routines

Rutinitas sebelum tidur seperti membersihkan badan, berganti pakaian, berdoa, atau membacakan cerita singkat membantu memberi sinyal pada tubuh anak bahwa waktu tidur telah tiba, meskipun kondisinya sedang tidak ideal. Lakukan hal-hal ini secara konsisten setiap harinya.

4. Mengoptimalkan Kondisi Fisik

Atur kondisi fisik anak dengan fokus pada hal-hal yang paling mungkin diperbaiki dalam situasi darurat. Misalnya, memastikan anak tidak kedinginan atau kepanasan dengan menyesuaikan pakaian, tanpa perlu mengenakan lapisan berlebihan untuk mencegah overheat.

Jika mandi tidak memungkinkan, bersihkan tubuh anak menggunakan tisu atau kain basah, terutama pada area wajah, leher, ketiak, dan kaki agar tubuh terasa lebih nyaman.

Selain itu, hindari memberikan makan berat atau minuman manis setidaknya satu jam sebelum waktu tidur untuk membantu tubuh anak lebih siap beristirahat.

5.  Menjaga Aktivitas Fisik dan Jadwal tidur

Ajak anak bergerak dan bermain ringan di siang hari agar energinya tersalurkan. Penelitian menunjukkan bahwa anak yang aktif di siang hari cenderung memiliki tidur malam yang lebih nyenyak karena kebutuhan geraknya terpenuhi dengan baik.

Aktivitas sederhana seperti berjalan kecil di area yang aman sudah cukup membantu. Selain aktivitas fisik, beri ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya melalui menggambar, bermain peran, atau bercerita.

Selain itu, tetap usahakan jam tidur dan bangun yang konsisten untuk membantu menjaga ritme biologis anak.

6. Mengelola Stress untuk Orang Tua

Meski masih bayi atau balita, anak peka terhadap stres orang tuanya. Perubahan nada suara, ekspresi, dan sikap orang tua dapat membuat anak ikut merasa cemas, rewel, dan sulit tidur.

Oleh karena itu sebaiknya sebelum mendampingi anak, orang tua perlu menenangkan diri terlebih dahulu, misalnya dengan menarik napas dalam dan berbicara dengan lebih lembut. Respons yang tenang dan konsisten membantu anak merasa aman dan lebih mudah menenangkan diri.

Untuk anak yang sudah lebih besar, sebaiknya batasi paparan anak terhadap berita atau percakapan yang bernuansa traumatis. Usahakan diskusi mengenai kondisi darurat dilakukan jauh dari anak agar ia tidak menyerap kecemasan tambahan.

Kesimpulan

Kesimpulannya, tidur merupakan bagian penting dari proses pemulihan anak pascabencana. Fokus utama adalah membangun rasa aman, mempertahankan rutinitas sederhana, dan menciptakan lingkungan yang stabil bagi anak.

Keterbatasan kondisi bukanlah penghalang utama. Dengan konsistensi dan kehadiran penuh dari orang dewasa, kualitas tidur anak tetap dapat dijaga demi kesehatan dan kesejahteraannya.

 

Sumber : AyoSehat


Copyright by Markbro 2025. All rights reserved.