Orang-Muda-Bebas-dari-Risiko-Penyakit-Jantung-Apa-Benar.png
17/Oct/2025

Penyakit kardiovaskular sering diidentikkan dengan orang berusia lanjut yang sudah kurang produktif. Tapi, tahukah Anda kalau penyakit kardiovaskular sebetulnya sangat sering menyerang kelompok usia produktif?

Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka pengidap penyakit ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bisa dikatakan, 15 dari 1000 orang di Indonesia menderita penyakit jantung.

Penyebab Penyakit Jantung

Pola hidup tidak sehat menjadi faktor utama dari penyebabnya, seperti makan sembarangan, kurang tidur, mengkonsumsi alkohol atau rokok, serta kurang berolahraga. Bukankah ini sering dilakukan para usia muda produktif karena pengaruh gaya hidup, pekerjaan, atau pergaulan?

Kadang, pengidap penyakit kardiovaskular sulit menyadari mereka sebetulnya sudah memiliki tanda-tandanya karena enggan memeriksakan kesehatan. Alangkah sayang jika ketahuan saat terlanjur parah, karena akan semakin sulit diobati.

Manfaatkan Sarana Kesehatan Berikut untuk Deteksi Dini

Padahal, proses pemeriksaan Penyakit Tidak Menular ini tidak sulit. Pemerintah telah mempermudah akses masyarakat agar orang yang berisiko terkena penyakit ini bisa segera memeriksakan kondisinya, bahkan bagi mereka yang tinggal di daerah.

Banyak sarana layanan kesehatan yang bisa digunakan untuk periksa dini penyakit pencetus atau faktor risiko yang menyebabkan penyakit kardiovaskular, seperti hipertensi, kolesterol, gula darah. Di antaranya:

1. Fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti Puskesmas atau klinik kesehatan terdekat. Pastikan dahulu tempat yang Anda kunjungi dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan yang dibutuhkan.

2. Rumah Sakit. Sebagai sarana kesehatan paling besar dibandingkan yang lain di atas, apabila hendak memeriksakan diri ke rumah sakit, jangan lupa juga lakukan persiapan untuk menunggu antrian.

Tips Agar Nyaman Selama Pemeriksaan Kesehatan

Melakukan pemeriksaan kesehatan mungkin terdengar seperti kegiatan yang memakan waktu. Karena itu, ada baiknya Anda menyiapkan hal-hal berikut agar pemeriksaan kesehatan berjalan lebih nyaman:

1. Lengkapi persyaratan. Bila Anda menggunakan BPJS, biasanya akan ada pendataan yang harus dilakukan sebelum pemeriksaan. Pastikan Anda sudah memfotokopi surat-surat penting seperti KTP atau surat rujuk bila ada.

2. Cari tahu apakah tempat tersebut dilengkapi dengan pendaftaran online. Anda bisa mencoba melakukan pencarian singkat di internet untuk mengetahuinya dan melakukan pendaftaran langsung di sana.

3. Bawa camilan dan minum atau hiburan. Menanti giliran tentu bukan proses yang menyenangkan. Untuk itu, lakukan persiapan kecil seperti menggunakan pakaian yang nyaman, menggunakan tas yang cukup menampung barang bawaan, hingga membawa benda penangkal bosan seperti buku, atau gadget. Tapi, tetap pantau nomor antrian yang sedang berjalan agar tidak terlewat, ya!

Selain memeriksakan kesehatan, tentu penyakit kardiovaskular tidak bisa dicegah tanpa usaha langsung. Selalu jaga kondisi kita agar terhindar dari penyakit tidak menular dengan melakukan gaya hidup CERDIK. Apa itu? Cari tahu di sini.

 Dengan menjalankan CERDIK secara rutin, kita bisa telah berusaha menjauhkan diri dari penyakit tidak menular dan hidup dengan sehat!

Sumber : AyoSehat


Orang-Tua-Waspada-Penyakit-Jantung-Bawaan-pada-Anak.png
16/Oct/2025

Apa itu penyakit jantung bawaan? Penyakit Jantung Bawaan atau sering dikenal dengan  istilah PJB merupakan sebuah kondisi ketika seseorang memiliki kelainan struktur jantung atau sirkulasi di jantung akibat kegagalan proses pembentukan organ saat berada di dalam kandungan.

Di dunia, setiap 1 dari 100 bayi lahir dengan PJB. Di Indonesia, negara dengan angka fertilitas (kesuburan) tinggi, terdapat kurang lebih 5 juta bayi lahir setiap tahun dengan 50.000 bayi lahir dengan PJB dan 12.500 dengan PJB berat. Hal tersebut menjadikan Indonesia memiliki beban kesehatan tinggi terhadap kelainan ini (PJB).

Penyebab Penyakit Jantung Bawaan

Bagaimana PJB bisa terjadi? Sampai saat ini, penyebab terjadinya PJB masih belum jelas, tetapi ada beberapa faktor risiko yang berperan, meliputi kebiasaan merokok baik secara aktif maupun pasif, konsumsi alkohol, ibu dengan diabetes mellitus/penyakit gula saat hamil, infeksi TORCH, kelainan jantung bawaan di keluarga, faktor genetik lain.

Gejala Penyakit Jantung Bawaan

PJB dapat menimbulkan gejala seperti:

  1. Mudah lelah

  2. Sesak napas

  3. Dada berdebar-debar

  4. Mudah pingsan

  5. Batuk dan pilek cenderung tidak sembuh-sembuh

  6. Tumbuh kembang terhambat

  7. BB sulit meningkat atau cenderung menurun

  8. Sering demam tidak diketahui penyebabnya

  9. Pernah terdiagnosis TBC saat anak atau sakit flek

 

Selain itu, tanda khas pada PJB yang dapat ditemukan antara lain adalah biru di bibir, lidah, jari tangan, atau kaki (sianosis).

Oleh karena itu, apabila anak Anda menunjukkan tanda atau gejala seperti di atas, segera periksa ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat. Apabila tidak ditangani dengan baik dan segera, maka akan menimbulkan kondisi seperti gagal jantung kanan, gangguan irama jantung, angka harapan hidup berkurang, dan peningkatan risiko terjadinya stroke di masa depan.

Cara Mencegah Penyakit Jantung Bawaan

Pencegahan dapat dilakukan menghindari faktor risiko, yakni dengan tidak merokok, tidak konsumsi alkohol, menjaga kesehatan tubuh. Bagi yang sudah terdiagnosis, wajib rutin kontrol sesuai jadwal, konsumsi obat sesuai anjuran, aktivitas disesuaikan dengan kebutuhan, konsumsi makanan bergizi seimbang (tidak ada pantangan khusus makanan tertentu yang dapat memperparah PJB).

Sumber : AyoSehat


adhd-pada-anak.png
15/Oct/2025

Apa itu ADHD? Pertanyaan ini mungkin akan muncul di tengah masyarakat yang masih asing terhadap isu kesehatan mental.

ADHD adalah singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Masalah kesehatan ini merupakan kondisi yang membuat anak mengalami gangguan psikiatrik yang ditunjukkan dengan gangguan memfokuskan perhatian secara berlebihan dan hiperaktivitas.

Ada 3 karakteristik utama ADHD pada anak yang biasa ditemukan (Stahl, 2009), yaitu:

  1. Inatensi

    1. Kesulitan mempertahankan fokus

    2. Gagal fokus pada hal detail

    3. Terlihat tidak mendengarkan

    4. Kesulitan mengikuti instruksi

    5. Kesulitan mengorganisasi

    6. Sering kehilangan barang dll

  2. Hiperaktif

    1. Gelisah

    2. Tidak bisa duduk diam

    3. Tidak bisa antri

    4. Lari atau memanjat tak terkendali

    5. Bergerak tanpa kendali

    6. Banyak bicara

  3. Impulsif

    1. Kesulitan menunggu giliran

    2. Menjawab impulsif tanpa menunggu selesai

    3. Memotong pembicaraan orang lain

Seorang anak ADHD biasanya menunjukkan 1 atau lebih dari kategori perilaku diatas. Gejala ADHD yang tampak pada seorang anak, biasanya akan muncul sebelum usia 7 atau 12 tahun.

Namun para orang tua tidak perlu takut, karena dengan terapi pengobatan maupun terapi non pengobatan, ADHD akan membantu anak dalam mengatasi masalah yang dialaminya.

Terapi Anak dengan Gangguan ADHD

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa terdapat banyak pilihan terapi yang bisa dilakukan untuk mengendalikan ADHD pada anak, diantaranya adalah

  1. Terapi farmakologi (Terapi Pengobatan) dengan menggunakan obat stimulan methylphenidate dan amphetamine sulphate dan obat non stimulan seperti atomoxetine.

  2. Terapi non farmakologi (Terapi non pengobatan) dengan neurofeedback, yaitu terapi kognitif dan perilaku untuk melatih fungsi otak.

Dalam menghadapi kondisi ADHD pada anak, dukungan dan kasih sayang orang tua merupakan hal yang sangat dibutuhkan oleh sang anak.

Sehingga menjaga hubungan emosional yang baik diharapkan dapat memberi pengaruh positif terhadap perbaikan kondisi pada anak. Berikut beberapa tips yang dapat dilakukan dalam menangani anak dengan ADHD di rumah:

  1. Memberikan instruksi yang jelas: Berikan instruksi yang sederhana, langsung, dan spesifik. Jika perlu, gunakan panduan visual atau daftar tugas yang jelas untuk membantu anak memahami dan mengingat tugas yang harus dilakukan.

  2. Mengatur waktu untuk berolahraga dan kegiatan fisik

  3. Makanan sehat dan pola tidur yang teratur

  4. Dukungan dan komunikasi

  5. Pujian dan penghargaan untuk memperkuat motivasi dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.

  6. Menggunakan strategi belajar yang efektif: Visual, Auditory, Kinestetik

Penanganan dini pada anak dengan ADHD yang diawali dengan rutin melakukan pemeriksaan merupakan langkah bijaksana yang bisa dilakukan oleh para orangtua, sehingga proses penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat dari petugas kesehatan.

Sumber : AyoSehat


Mengenal-Gejala-Anemia-pada-Remaja.png
14/Oct/2025

Anemia adalah suatu kondisi dimana tubuh seseorang mengalami penurunan atau jumlah sel darah merah yang ada di dalam tubuh berada di bawah batas normal.

Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan kurangnya hemoglobin di dalam tubuh, sehingga mempengaruhi jumlah produksi sel darah merah.

Anemia juga merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada golongan remaja. Hal ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kekurangan nutrisi hingga pendarahan akibat menstruasi.

Gejala Anemia pada Remaja

Secara umum, sebagian orang tidak memperlihatkan gejala atau tanda. Namun demikian, terdapat beberapa gejala anemia yang dapat dialami oleh remaja seperti berikut, diantaranya adalah:

  1. Terlihat sangat lelah

  2. Mengalami perubahan suasana hati

  3. Kulit yang terlihat lebih pucat

  4. Sering mengalami pusing

  5. Mengalami jaundice (kulit dan mata menjadi kuning)

  6. Detak jantung berdebar lebih cepat dari biasanya.

  7. Mengalami sesak nafas, sindrom kaki gelisah hingga kaki dan tangan bengkak apabila mengalami anemia berat.

Dengan mengetahui beberapa gejala anemia pada remaja diatas, diharapkan para orangtua bisa meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pencegahan dengan memenuhi asupan gizi dan nutrisi pada anak setiap harinya.

Selain itu, juga diharapkan anak bisa mengkonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara berkala.

Tetap terapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta bersegera dalam melakukan pemeriksan ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala anemia, agar bisa segera mendapatkan penanganan secara cepat dan tepat dari petugas kesehatan.

Sumber : AyoSehat


Jerawat-Bisa-Terjadi-Pada-Bayi-dan-Anak.png
13/Oct/2025

Bukan hanya pada remaja dan dewasa, jerawat juga bisa terjadi sejak bayi baru lahir dan di masa anak-anak. Masalah jerawat pada bayi dan anak juga terbilang cukup sering terjadi dan tidak lagi menjadi sesuatu yang langka. Setidaknya ada 20 persen bayi baru lahir yang mengalami jerawat. Masalah jerawat pada bayi dan anak harus dibedakan dari permasalahan kulit lainnya yang juga sering terjadi di masa awal kehidupan mereka. Jerawat pada anak-anak juga umumnya lebih membutuhkan terapi yang lebih kuat dibandingkan jerawat pada bayi baru lahir.

Pentingnya perawatan jerawat pada bayi baru lahir terletak pada perbedaannya dengan penyakit infeksi atau masalah kulit lainnya, dan kemungkinan terjadinya jerawat yang parah di masa remaja kelak.

Jerawat neonatal berkembang ketika bayi baru lahir hingga bayi berusia sekitar dua minggu, tetapi dapat terjadi kapan saja dalam enam minggu pertama kehidupan. Sedangkan jerawat infantile akan terjadi setelah bayi berusia enam minggu. Meskipun biasanya akan hilang setelah bayi berusia enam bulan hingga satu tahun, beberapa anak memiliki jerawat lebih lama, bahkan hingga usia remaja.

 

Jerawat pada bayi baru lahir biasanya muncul dalam bentuk komedo pada dahi, hidung, dan pipi. Beberapa juga ada yang berupa komedo terbuka, peradangan papula, dan pustula juga mungkin saja terjadi. Masalah jerawat neonatal dan infantile ini juga lebih sering terjadi pada bayi laki-laki.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya jerawat pada bayi baru lahir, termasuk peningkatan sekresi sebum, stimulasi kelenjar minyak yang distimulasi oleh hormon androgen ibu, dan bertambahnya malassezia atau spesies jamur yang alami ditemukan pada permukaan kulit. Peningkatan sekresi minyak di masa neonatal terjadi akibat adanya peningkatan aktivitas kelenjar minyak. Setelah berusia enam bulan, minyak akan menurun seiring dengan berkurangnya hormon Ibu.

Baik androgen di masa kehamilan dan masa neonatal sama-sama terlibat dalam stimulasi kelenjar minyak yang menyebabkan terjadinya jerawat pada bayi baru lahir. Kelenjar adrenal neonatal memproduksi dehidroepiandrosterone yang cukup tinggi, yang menstimulasi kelenjar minyak hingga usia satu tahun. Setelah berusia satu tahun tingkat dehidroepiandrosterone akan menurun.

Hormon androgen memberikan stimulasi tambahan pada kelenjar minyak, itulah mengapa jerawat neonatal lebih sering terjadi pada bayi laki-laki. Jerawat neonatal bisa saja terjadi akibat respon peradangan terhadap spesies Malassezia.

Perawatan jerawat pada bayi

Jerawat neonatal umumnya tidak memerlukan perawatan yang serius. Menurut American Academy of Dermatology, jerawat bayi cenderung akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga beberapa bulan. Namun mereka menyarankan agar orangtua hanya menggunakan produk perawatan kulit bayi yang direkomendasikan oleh dokter. Perlakukan kulit bayi dengan lembut, bersihkan dengan menggunakan air yang hangat, dan hindari produk perawatan kulit yang berminyak.

Orangtua juga sebaiknya memotong kuku bayi secara berkala agar bayi tidak melukai jerawatnya saat menggaruk. Gunakan juga pakaian atau sarung bantal alas tidur yang lembut agar tidak terjadi gesekan pada kulit bayi.

Dokter kulit bisa saja merekomendasikan obat topikal  (krim) untuk mengatasi jerawat neonatal dan infantil. Untuk jerawat yang lebih parah bisa saja dokter meresepkan obat minum (misalnya antibiotik). Namun untuk ini, bayi perlu diperiksa dengan teliti terlebih dahulu oleh dokter spesialis kuli

 

Sumber : Perdoski


Kemenkes-Tegaskan-Keamanan-Pangan-sebagai-Kunci-Keberhasilan-Program-Makan-Bergizi-Gratis.png
11/Oct/2025

Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa keamanan pangan menjadi faktor krusial dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditegaskan melalui Surat Edaran Nomor HK.02.02/A/4954/2025 yang mengatur aspek keamanan pangan, kesiapsiagaan, serta respons cepat terhadap potensi keracunan pangan massal (KLB).

Program MBG menyasar anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan lansia sebagai kelompok rentan. Program strategis nasional ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas gizi dan menekan angka stunting. Namun, keberhasilan program hanya dapat tercapai apabila standar keamanan pangan diterapkan secara ketat di setiap tahap penyelenggaraan.

“Pencegahan keracunan pangan adalah tanggung jawab bersama. Keamanan pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal mutu makanan, tetapi juga soal menjaga nyawa dan keberlangsungan program pemerintah,” tegas Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, Kunta Wibawa Dasa Nugraha.

Melalui surat edaran tersebut, Kemenkes meminta Dinas Kesehatan provinsi maupun kabupaten/kota berperan aktif dalam menjamin keamanan pangan. Upaya ini mencakup pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) pada setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pelaksanaan inspeksi kesehatan lingkungan secara rutin, serta pelatihan keamanan pangan bagi penjamah makanan dan tenaga gizi melalui platform Learning Management System (LMS) Kemenkes.

Selain itu, pemenuhan standar gizi diperkuat melalui pembinaan penyusunan menu sesuai pedoman, pelatihan sistem manajemen penyelenggaraan makanan, edukasi gizi, serta pemantauan status gizi peserta program di sekolah dan posyandu.

Dalam kondisi darurat seperti munculnya gejala keracunan pangan massal, masyarakat diimbau segera menghubungi call center 119 atau fasilitas kesehatan terdekat. Tim Gerak Cepat (TGC) akan ditugaskan melakukan investigasi epidemiologi dan uji sampel makanan di laboratorium terakreditasi, sementara seluruh laporan KLB harus segera disampaikan ke Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) melalui nomor 0877-7759-1097.

Dinas Kesehatan provinsi juga diharapkan menjalankan peran penting dalam membina, mengawasi, dan mengevaluasi seluruh pelaksanaan kebijakan ini di tingkat kabupaten/kota.

“Kami ingin memastikan makanan dalam program ini tidak hanya bergizi, tetapi juga aman. Dinas kesehatan daerah adalah garda terdepan dalam menjamin hal tersebut,” tambah Kunta.

Kementerian Kesehatan menekankan bahwa keamanan pangan dan respons cepat terhadap KLB merupakan syarat utama keberhasilan Program MBG. Pelaksanaan surat edaran ini diminta berjalan penuh tanggung jawab sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Sumber : Kemenkes


Digital-Health-Janji-dan-Jurang.png
10/Oct/2025

Di tengah derasnya arus teknologi, dunia kesehatan tak luput dari transformasi digital. Kini, kita mengenal digital health: sebuah payung besar yang menaungi telemedicine, aplikasi kesehatan mobile, rekam medis elektronik, wearable device, hingga kecerdasan artifisial. Tujuannya mulia: mempermudah akses, meningkatkan kualitas, dan membuat layanan kesehatan lebih personal.

Bukti-bukti terkini, seperti yang dipetakan dalam sejumlah tinjauan sistematis, menunjukkan bahwa publikasi tentang digital health melonjak drastis sejak 2015, dengan puncaknya pada era pandemi COVID-19. Mayoritas riset difokuskan pada efektivitas intervensi, terutama yang berbasis aplikasi ponsel (mHealth), untuk mengubah perilaku kesehatan, mendukung kepatuhan pengobatan, dan meningkatkan asesmen klinis. Psikiatri menjadi bidang yang paling banyak diulas, mengingat sifat terapinya yang seringkali cocok dengan pendekatan digital.

Namun, di balik optimisme ini, tersembunyi jurang yang dalam. Peta bukti yang ada ternyata tidak merata. Sebagian besar ulasan masih berkutat pada apakah suatu intervensi digital bekerja, tetapi sangat sedikit yang membahas aspek efisiensi biaya, kesetaraan akses (equity), dan sejauh mana layanan ini benar-benar berpusat pada pasien. Kita seperti terjebak dalam euforia “bisa dilakukan”, tetapi lupa bertanya “bagaimana dampaknya bagi semua kalangan?” dan “berapa biaya sesungguhnya yang harus dikeluarkan?”

Tantangan ini bukan hanya soal angka dan statistik, melainkan menyentuh ranah yang lebih manusiawi. Sebuah sintesis bukti dari perspektif pasien mengungkap tiga pilar masalah utama: Literasi Digital, Fungsionalitas & Kegunaan, dan Kepercayaan.

Pilar pertama, Literasi Digital, adalah penghalang terbesar. Bukan hanya tentang bisa atau tidaknya mengoperasikan ponsel. Ini tentang kesenjangan generasi dalam hal kemauan dan kemampuan adaptasi. Ini tentang pasien lansia yang gagap teknologi. Ini tentang masyarakat di daerah terpencil yang bahkan tidak tahu bahwa layanan kesehatan digital itu ada. Ini juga tentang pasien dengan bahasa ibu bukan Inggris yang kesulitan memahami konten aplikasi. Ketidaktahuan ini melahirkan ketakutan, frustrasi, dan kecemasan akan salah diagnosis sendiri. Alih-alih memberdayakan, teknologi justru bisa meminggirkan mereka yang paling membutuhkan.
Pilar kedua, Fungsionalitas dan Kegunaan, berbicara tentang desain dan akses. Berapa banyak aplikasi kesehatan yang dirancang dengan antarmuka yang rumit? Berapa banyak yang membutuhkan input manual yang menyita waktu dan tenaga? Lupa kata sandi, proses login yang berbelit, dan koneksi internet yang tersendat adalah penghalang nyata yang membuat pengguna menyerah dan akhirnya meninggalkan aplikasi. Masalah akses pun nyata: tidak memiliki ponsel pintar, tidak mampu membeli paket data, atau tinggal di daerah dengan sinyal yang buruk adalah tembok pembatas yang mengubur potensi digital health sejak awal. Kekhawatiran akan stigma sosial karena memakai wearable device dan rasa tidak nyaman menjadi “terlalu terhubung” juga menjadi pertimbangan.
Pilar ketiga, dan mungkin yang paling krusial, adalah Kepercayaan. Bagaimana mungkin kita bisa menyerahkan data kesehatan kita—yang sangat sensitif—pada sebuah platform jika kita ragu dengan keamanannya? Kekhawatiran akan pelanggaran data, penyalahgunaan data untuk kepentingan komersial, atau pembagian data kepada pemerintah tanpa persetujuan yang jelas adalah momok yang nyata. Pasien merasa kehilangan kendali atas data mereka sendiri. Di sisi lain, ada ketakutan akan pudarnya hubungan manusiawi antara dokter dan pasien. Sentuhan, empati, dan komunikasi nonverbal yang hangat sulit tergantikan oleh layar datar. Kekhawatiran bahwa konsultasi virtual akan mereduksi perawatan menjadi transaksi teknis belaka adalah hal yang valid. Ketergantungan berlebihan pada teknologi juga memunculkan kekhawatiran baru: distorsi hubungan sosial dan potensi adiksi.

Tantangan ini diperparah oleh apa yang disebut “paradoks produktivitas”. Investasi besar-besaran dalam teknologi informasi tidak serta-merta menghasilkan peningkatan produktivitas atau kualitas layanan yang signifikan. Penyebabnya beragam, mulai dari manajemen TI yang tidak efisien, infrastruktur yang tidak mendukung, hingga kegagalan dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam alur kerja klinis yang sudah ada.

Lalu, ke mana kita harus melangkah?

Pertama, kita harus jujur mengakui bahwa bukti yang kita miliki saat ini masih timpang. Terlalu banyak fokus pada “apakah bekerja” dan terlalu sedikit pada “bagaimana menerapkannya secara adil dan berkelanjutan”. Riset dan ulasan di masa depan harus dengan sengaja mengeksplorasi celah-celah ini, khususnya mengenai efisiensi biaya dan pemerataan akses bagi kelompok rentan.
Kedua, desain digital health harus benar-benar berpusat pada manusia (human-centered design). Bukan hanya tentang kode dan algoritma, melainkan tentang memahami konteks kehidupan penggunanya. Aplikasi harus intuitif, mudah diakses oleh mereka dengan kemampuan teknologi terbatas, dan mendukung—bukan menggantikan—hubungan terapeutik antara penyedia layanan dan pasien.
Ketiga, membangun kepercayaan membutuhkan lebih dari sekadar kebijakan privasi yang panjang dan berbelit. Diperlukan kerangka etika yang kuat yang menempatkan hak asasi manusia sebagai fondasi. Transparansi mutlak tentang bagaimana data digunakan, persetujuan yang benar-benar informed, dan jaminan keamanan siber yang robust adalah harga mati. Sertifikasi dan “stempel” keamanan dari badan independen dapat membantu pasien memilih alat yang terpercaya.
Terakhir, kita tidak bisa mengabaikan konteks global. Sebagian besar bukti dan inovasi datang dari negara maju. Padahal, tantangan dan peluang digital health di negara berpenghasilan rendah dan menengah justru mungkin lebih besar. Di sinilah pentingnya investasi dalam infrastruktur digital, pelatihan literasi kesehatan digital, dan pengembangan solusi yang rendah biaya dan hemat daya, yang dapat berjalan dengan lancar di daerah dengan konektivitas terbatas.

Revolusi digital kesehatan bukanlah tentang menggantikan peran manusia dengan mesin. Ini tentang menciptakan ekosistem di mana teknologi berfungsi sebagai alat pemerkasa, yang memperluas jangkauan, mempertajam akurasi, dan memperdalam personalisasi perawatan, tanpa mengikis hakikat manusiawi dari proses penyembuhan itu sendiri. Masa depan digital health tidak ditentukan oleh kecanggihan algoritmanya semata, tetapi oleh sejauh mana kita mampu menjembatani jurang antara janji teknologi dan realitas kemanusiaan yang kompleks.

 

Sumber : AyoSehat


Wamenkes-Baru-Dilantik-Kemenkes-Perkuat-Percepatan-Eliminasi-TBC.png
09/Oct/2025

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melantik dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P(K) sebagai Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) yang baru di Istana Negara, Jakarta, Rabu (8/10). Kehadiran Benjamin yang memiliki latar belakang sebagai dokter spesialis paru diharapkan semakin memperkuat upaya percepatan transformasi kesehatan nasional, khususnya dalam eliminasi tuberkulosis (TBC).

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa penunjukan Benjamin sejalan dengan perhatian khusus Presiden Prabowo terhadap TBC.

“Dokter Beni (Benjamin) sudah tahu ya adalah ahli spesialis paru dan salah satu atensinya Bapak Presiden mengenai percepatan eliminasi tuberkulosis,” ujar Menkes Budi.

Menkes menambahkan, Presiden Prabowo sejak lama memiliki komitmen untuk menghapus TBC dari Indonesia, mengingat penyakit ini masih menjadi salah satu penyebab kematian utama.

“Beliau itu passion-nya, hatinya dari dulu ingin kalau bisa kalau penyakit yang membunuh 125.000 setiap tahun itu bisa cepat kita hilangkan,” tutur Budi.

Upaya menurunkan kasus TBC juga merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Presiden Prabowo yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan. Program ini menjadi fokus untuk mempercepat eliminasi TBC di Indonesia, sekaligus meningkatkan akses layanan kesehatan yang merata bagi masyarakat.

Dalam wawancara usai pelantikan, Menkes Budi memperkenalkan Wamenkes baru dengan menekankan pentingnya memberi teladan hidup sehat.

“Tau gak syaratnya mau kerja di Kemenkes? Harus sehat. Nah saya mau memperkenalkan, tadi siang Presiden Prabowo baru melantik wakil menteri kesehatan baru namanya dokter Beni Oktavianus. Kenapa dokter Beni bisa masuk? Karena Pak Prabowo tahu beliau sekarang hidupnya lebih sehat jauh sebelum menjadi wamenkes,” kata Menkes.

Wamenkes Beni kemudian berbagi pengalamannya menjaga pola hidup sehat.

“Kira-kira 2 tahun lalu saya kaget, enggak sengaja cek gula darah, HBA1C saya 6,4 padahal tidak ada riwayat keluarga diabetes. Ternyata saya obesitas dengan berat badan 72 kilo. Sebagai dokter yang tiap hari menasihati orang, saya langsung memutuskan untuk diet dan olahraga teratur. Berat badan turun 11 kilo jadi 61 kg, stabil selama satu tahun. Dengan perubahan gaya hidup, prediabetes saya membaik, sekarang 5,9 dan saya akan berusaha capai 5,7,” jelasnya.

Menkes Budi menegaskan, contoh pribadi Wamenkes baru mencerminkan pentingnya promosi kesehatan.

“Kenapa di Kementerian Kesehatan harus sehat? Karena kita harus memberikan contoh kepada seluruh masyarakat Indonesia agar mereka juga hidup sehat.” ujarnya.

Dengan dilantiknya Benjamin, Kementerian Kesehatan kini memiliki dua Wakil Menteri Kesehatan. Menkes memastikan bahwa Wamenkes Dante Saksono Harbuwono tetap menjabat, sehingga keduanya akan bekerja bersama mendukung program prioritas kesehatan nasional.

Menkes berharap dengan dukungan dua wakil menteri, Kemenkes dapat semakin optimal dalam mewujudkan transformasi kesehatan, mempercepat akses layanan, serta menurunkan beban penyakit di Indonesia.

 

Sumber : Kemenkes


Menkes-Dorong-Penguatan-BPOM-RI-dalam-Pengawasan-Obat-dan-Makanan-Melalui-Diorama.png
07/Oct/2025

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menghadiri peresmian Diorama Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) yang menjadi simbol pelestarian arsip dan sejarah pengawasan obat serta makanan di Indonesia.

Diorama BPOM menggambarkan peranan arsip dalam mendukung kinerja organisasi, serta menjadi bukti akuntabilitas dan pertanggungjawaban lembaga kepada publik. Ruangan diorama terbagi menjadi dua area utama dengan tema berbeda.

Ruang pertama menampilkan peta sebaran wilayah kerja BPOM, filosofi logo, serta struktur organisasi melalui media LED TV, dilengkapi etalase bertema “BPOM Menjulang, Membumi, dan Mengakar.” Sementara itu, ruang kedua menyajikan kutipan para pimpinan BPOM, foto Kepala BPOM dari masa ke masa, dokumentasi kegiatan, hingga miniatur pakaian seragam pegawai.

Dalam sambutannya, Menkes Budi menekankan pentingnya peran BPOM dalam menghadapi tantangan pengawasan obat dan makanan di tengah dinamika global.

“Kita juga bagian dari sejarah. Kita tidak tahu nanti 10 atau 20 tahun ke depan akan seperti apa. Kebutuhan masyarakat terhadap obat dan makanan akan terus meningkat,” ujar Menkes Budi di gedung BPOM, Jakarta, Senin (6/10).

Menkes Budi menambahkan perubahan iklim global juga berpotensi menghadirkan ancaman baru dari patogen yang sebelumnya tidak terdeteksi.

“Dalam climate change ini, kita tidak tahu apakah ada patogen baru yang lompat dari binatang lain. Artinya, selain jumlah makanan bertambah, jenis patogennya pun bisa bertambah,” jelasnya.

Menurut Menkes, BPOM memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam menjaga keamanan obat dan makanan. Tantangan di masa depan diperkirakan semakin kompleks seiring bertambahnya populasi, beragamnya produk pangan dan obat, serta meningkatnya risiko racun dan patogen.

“Tes yang paling segera harus dilakukan adalah melindungi anak-anak kita dari keracunan makanan,” tegasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan BPOM terus berupaya memperkuat sistem pengawasan dan kapasitas kelembagaan agar lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.

Salah satu langkah nyata adalah diterbitkannya Peraturan Nomor 8 Tahun 2025 tentang Pedoman Penilaian Produk Terapi Advanced, yang bertujuan mempercepat ketersediaan obat inovatif sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.

Lebih lanjut, Taruna menyampaikan BPOM saat ini tengah menunggu hasil akhir assessment World Health Organization (WHO) Listed Authority (WLA), yang akan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

“Dengan WLA ini akan memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem global,” ujar Taruna pada Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (Rakor KKSK).

Dengan adanya Diorama BPOM, diharapkan masyarakat dapat melihat jejak perjalanan, kiprah, dan komitmen BPOM dalam melindungi kesehatan masyarakat, sekaligus menjadi pengingat pentingnya pengawasan obat dan makanan di masa depan.

 

Sumber : Kemenkes


Membangun-Generasi-Sehat-di-Era-Digital-Peran-Vital-Literasi-Kesehatan.png
04/Oct/2025

Generasi muda menjadi penentu masa depan bangsa. Generasi muda saat ini terdiri dari Generasi Alpha, Generasi Z dan milenial. Mereka merupakan agen perubahan yang membawa dinamika baru dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk kesehatan. Saat ini, mereka hidup dan tumbuh dalam era digital, di mana informasi mengalir tanpa batas, namun tidak semuanya akurat, termasuk tentang kesehatan. Semua bertebaran di media sosial, aplikasi, hingga kanal berita daring/online.

Banyaknya informasi tidak selalu berarti kebenaran. Di sinilah pentingnya literasi hidup sehat, bukan sekadar pengetahuan, melainkan kemampuan kritis untuk memahami, menilai, memilah informasi dan mengambil keputusan yang cerdas serta menerapkan informasi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari demi kesehatan diri dan lingkungan.
Menurut WHO, literasi kesehatan yang baik berhubungan langsung dengan perilaku sehat, kualitas hidup, serta produktivitas seseorang. Artinya, generasi muda yang memiliki literasi kesehatan tinggi akan lebih siap menghadapi tantangan hidup modern, mulai dari pola makan, kesehatan mental, hingga aktivitas fisik.

Literasi hidup sehat mencakup lebih dari sekadar pemahaman tentang gizi atau olahraga, tetapi kemampuan untuk mencari, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan dari berbagai sumber, baik dari platform digital maupun non-digital. Sayangnya, derasnya arus informasi di media sosial juga membawa risiko besar: disinformasi dan hoaks kesehatan. Contohnya, klaim tentang diet ekstrem atau pengobatan alternatif yang tidak terbukti secara ilmiah dapat dengan mudah memengaruhi pandangan mereka.

 

Tantangan yang Dihadapi Generasi Muda

  1. Gaya Hidup Instan
    Budaya “serba cepat” membuat makanan cepat saji, minuman manis berkemasan, dan kebiasaan duduk berjam-jam menjadi hal biasa.
  2. Paparan Informasi Keliru
    Banyak tips kesehatan viral yang belum tentu terbukti secara ilmiah, seperti diet ekstrem atau konsumsi suplemen tanpa panduan.
  3. Kesehatan Mental yang Sering Terabaikan
    Tekanan akademik, sosial, hingga tuntutan gaya hidup sering membuat remaja dan pemuda mengalami stres, cemas, bahkan depresi.
  4. Kurangnya Aktivitas Fisik
    Gadget atau gawai memang mempermudah hidup, tetapi juga mengurangi aktivitas fisik. Data menunjukkan meningkatnya risiko obesitas dan penyakit metabolik pada usia muda.

 

Pilar Utama Literasi Hidup Sehat untuk Generasi Muda

Ada 3 (tiga) pilar utama yang harus ditingkatkan dalam membangun literasi hidup sehat yang kuat di kalangan generasi muda, yaitu:

  1. Pendidikan Kritis di Dunia Digital. Anak muda perlu diajarkan untuk tidak mudah menelan mentah-mentah informasi yang mereka temukan di media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube atau lainnya. Mereka harus mampu mengidentifikasi sumber yang kredibel, seperti Kementerian Kesehatan, WHO, atau lembaga kesehatan terpercaya, serta membedakan antara opini pribadi dengan fakta ilmiah.
  2. Pemahaman Holistik tentang Kesehatan. Kesehatan tidak hanya fisik. Literasi hidup sehat juga harus mencakup edukasi tentang kesehatan mental, manajemen stres, dan pentingnya mencari bantuan profesional saat diperlukan. Edukasi ini juga harus mencakup pengetahuan dasar tentang pencegahan penyakit menular dan dampak perilaku berisiko seperti merokok, vape, dan penyalahgunaan zat.
  3. Keterlibatan Aktif dan Advokasi. Generasi muda harus didorong untuk menjadi agen perubahan. Mereka dapat menggunakan platform digital untuk menyebarkan informasi kesehatan yang benar, membuat konten yang edukatif, dan mengadvokasi kebijakan yang mendukung lingkungan sehat di sekolah, kampus, atau komunitas mereka.

Disamping itu, ada 5 (lima) hal penting yang harus dipahami generasi muda tekait dengan hidup sehat dirinya, antara lain:

  1. Makan Seimbang, Bukan Sekadar Kenyang
    Konsumsi makanan bergizi seimbang, yaitu makanan yang mengandung karbohidrat, protein, sayur, buah, dan air putih yang cukup. Batasi gula, garam, dan lemak jenuh.
  2. Aktif Bergerak Setiap Hari
    Minimal 30 menit olahraga ringan–sedang, seperti jalan cepat, bersepeda, atau senam. Aktivitas kecil seperti naik tangga juga termasuk gaya hidup aktif.
  3. Rawat Kesehatan Mental
    Istirahat cukup, kelola stres dengan hobi, meditasi, atau olahraga. Jangan ragu meminta bantuan tenaga profesional apabila diperlukan.
  4. Bijak Memilah Informasi Kesehatan
    Pastikan informasi berasal dari sumber tepercaya: tenaga medis/Kesehatan profesional, jurnal ilmiah, atau lembaga resmi seperti Kementerian Kesehatan dan WHO.
  5. Cek Kesehatan Secara Berkala
    Pemeriksaan rutin membantu deteksi dini penyakit. Generasi muda sebaiknya tidak menunggu sakit untuk pergi ke fasilitas kesehatan. Manfaatkan hasil cek Kesehatan untuk perbaikan pola hidup sehat melalui perilaku hidup bersih dan sehat.

 

Peran Sekolah, Keluarga, dan Media

Sebagian besar dari generasi muda saat ini masih sekolah atau ada juga yang kuliah. Dalam kondisi seperti ini, maka semua pihak yang terkait harus berkontribusi, agar generasi muda melek literasi kesehatan. Yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Sekolah/kampus sebaiknya mengintegrasikan pendidikan kesehatan ke dalam kurikulum. Sekolah/Kampus Sehat seyogyanya menjadi wadah literasi kesehatan bagi mereka yang masih bersekolah atau kuliah.
  • Keluarga seyogyanya berperan sebagai teladan dalam bergaya hidup sehat sehari-hari.
  • Media dan platform digital perlu menghadirkan konten edukasi kesehatan yang menarik, singkat, namun berbasis sains.

 

Penutup

Generasi muda bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga agen perubahan gaya hidup sehat. Dengan meningkatkan literasi kesehatan, mereka akan menjadi individu yang lebih mandiri, mampu mengambil keputusan yang bijak untuk kesejahteraan diri sendiri, lingkungan dan pada akhirnya, menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berdaya. Membekali generasi muda dengan literasi hidup sehat yang mumpuni adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Hidup sehat bukan sekadar bebas penyakit, tetapi investasi jangka panjang menuju masa depan yang lebih produktif, bahagia, dan berkualitas.

 

Sumber : AyoSehat


Copyright by Markbro 2025. All rights reserved.