artikel-2024-04-22T091027.554.png

Penyakit yang disebabkan oleh sumsum tulang yang terlalu banyak menghasilkan sel darah merah, sel darah putih, atau trombosit dikenal sebagai penyakit mieloproliferatif. Penyakit mieloproliferatif dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti demam, sesak napas, kulit pucat, berkeringat di malam hari, dan kelelahan. Penyakit mieloproliferatif terbagi ke dalam enam jenis, yang dibedakan berdasarkan gangguan yang disebabkan oleh penyakit tersebut. Leukemia Mielositik (Granulositik) Kronik (LGK) adalah salah satu dari enam jenis penyakit mieloproliferatif tersebut. Polycythemia vera, di mana kadar sel darah merah tinggi pada sumsum tulang dan darah, sehingga darah menjadi lebih kental, adalah jenis kanker indolen (tumbuh secara lambat) yang disebabkan oleh banyaknya sel darah putih yang tidak sempurna di darah dan sumsum tulang.

Mielofibrosis adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah dan putih yang tidak sempurna dalam tubuh meningkat. Trombositemia esensial adalah ketika jumlah trombosit atau platelet dalam darah meningkat. Chronic neutrophilic leukemia mengandung banyak neutrofil dalam darah pasien, dan chronic eosinophilic leukemia mengandung banyak eosinofil dalam darah, sumsum tulang, dan jaringan tubuh lainnya.

Setiap penyakit memiliki metode pengobatan yang berbeda. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi, salah satunya adalah periostitis, jika tidak ditangani dengan tepat. Meskipun langka, penyakit mieloproliferatif adalah kondisi medis yang serius. Ini karena penyakit mieloproliferatif meningkatkan risiko stroke karena penyumbatan atau pecah pembuluh darah. Selain itu, penyakit mieloproliferatif juga meningkatkan risiko leukemia akut, kondisi yang terjadi karena tubuh membuat jumlah sel darah putih yang tidak normal.

 

Penyebab Penyakit Mieloproliferatif

Penyakit mieloproferatif menyebabkan banyak sel darah cacat karena gangguan sumsum tulang. Kondisi tersebut tidak diketahui sebabnya. Tetapi ada beberapa kondisi yang dianggap meningkatkan kemungkinan terkena penyakit ini, yaitu:

  • Kelainan keturunan
  • Infeksi oleh virus
  • Keracunan oleh bahan kimia
  • Eksposur radiasi

 

Gejala Penyakit Mieloproliferatif

Berikut ini adalah jenis penyakit mieloproliferatif dan gejala yang menyertainya:

  • Leukemia mielositik yang bertahan lama
    Ketika sumsum tulang menghasilkan jumlah sel darah putih jenis mieloid yang belum matang yang berlebihan, ini disebut leukemia mielositik kronis. Gejalanya dapat termasuk:

    • Demam
    • Kulit pucat
    • Kulit yang mudah memar
    • Berkeringat sepanjang malam
    • Reduksi berat badan
    • Mudah untuk lelah
    • Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar getah bening

 

  • Polistemia vera
    Polisitemia vera adalah kondisi yang dapat menyebabkan darah lebih cepat mengental karena terlalu banyak sel darah merah di dalam tubuh. Polisitemia vera biasanya menunjukkan gejala berikut:

    • Gagal, khususnya setelah mandi dengan air hangat
    • Lemas, kaku, atau lemas di tangan dan kaki
    • Rasa sakit di bagian atas perut, terutama setelah makan
    • Perdarahan, seperti darah di mimisan atau gusi
    • Sulit untuk menghirup udara, terutama saat berbaring
    • Bengkak di jari kaki

 

  • Myelofibrosis
    Gejala myelofibrosis termasuk: Kondisi di mana jaringan parut terbentuk di sumsum tulang karena banyaknya sel yang tidak normal diproduksi

    • Demam
    • Penyebab nyeri tulang
    • Perdarahan
    • Mudah lelah
    • Sesak dada
    • Nyeri di bawah rusuk kiri
    • Tingkat keringat meningkat pada malam hari.

 

  • Trombositemia yang signifikan
    Ketika jumlah trombosit melebihi batas normal, itu disebut trombositemia esensial, yang memiliki gejala seperti berikut:

    • Sakit pada kepala
    • Sakit di dada
    • Penglihatan yang kabur
    • Kesemutan atau rasa sakit di tangan dan kaki
    • Denyut pada kaki atau tangan

 

  • Leukemia kronis neutrophil
    Chronic neutrophilic leukemia adalah kondisi di mana sumsum tulang menghasilkan banyak sel darah putih jenis neutrofil. Gejalanya meliputi:

    • Asid urat
    • Penyebab nyeri tulang
    • Kulit gatal
    • Kulit yang mudah memar

 

  • Leukemia kronis eosinofilik
    Kondisi ini terjadi ketika sumsum tulang menghasilkan banyak eosinophil. Gejala yang paling umum dari chronic eosinophilic leukemia adalah:

    • Melemah
    • Demam
    • Menyerang otot
    • Bengkak di kulit bibir atau mata

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2024-04-20T083931.363.png

Penyakit jantung koroner adalah masalah kesehatan yang serius bagi masyarakat dan dapat mengancam jiwa. Karena arteri koroner adalah pembuluh darah yang menyuplai aliran darah ke otot jantung, jika tersumbat, aliran darah ke otot jantung dapat berkurang. Kondisi ini dapat menyebabkan infark (kematian sel jantung) atau serangan jantung (terhentinya jantung memompa darah secara keseluruhan). Coronary artery bypass graft (CABG), juga disebut sebagai operasi pintas arteri koroner, dan percutaneous coronary intervention (PCI) adalah dua jenis operasi bedah yang paling umum untuk mengobati penyakit ini.

Revaskularisasi, atau kembalinya aliran darah melalui arteri koroner yang tersumbat, adalah tujuan dari baik CABG maupun PCI. Selama operasi terbuka yang dikenal sebagai CABG, dokter bedah memotong dada pasien untuk menyambungkan pembuluh darah baru dari aorta ke arteri koroner dengan melewati area arteri yang tersumbat. Dua metode CABG yang dapat digunakan selama prosedur ini adalah on-pump CABG, yang menggunakan mesin jantung-paru untuk menghentikan detak jantung; atau off-pump CABG, yang menggunakan mesin jantung-paru dan menjalankan prosedur dalam keadaan berdetak.

Sebaliknya, perkutan koroner (PCI) adalah prosedur non-invasif yang menggunakan kateter, selang kecil. Alat ini dimasukkan melalui pembuluh darah di pangkal paha atau pergelangan tangan dan kemudian didorong hingga mencapai arteri koroner yang tersumbat di jantung. Di ujung kateter, balon dibuat untuk membuka bagian arteri yang menyempit. Untuk mempertahankan pembuluh darah terbuka, ring jantung atau stent dapat dipasang di area yang tersumbat.

Masing-masing dari tindakan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang lebih parah yang melibatkan tiga atau lebih arteri yang tersumbat, CABG biasanya lebih efektif daripada prosedur PCI. Di sisi lain, prosedur PCI lebih baik dilakukan pada pasien dengan penyakit jantung koroner yang tidak begitu parah, yang hanya meliba. PCI biasanya lebih cepat pulih dan tidak membutuhkan rawat inap yang lama. Namun, pada beberapa pasien, PCI sering kali memerlukan prosedur revaskularisasi lagi, dan efektivitasnya dapat terbatas pada pembuluh darah yang sangat kecil atau berbelok-belok.

Dokter dan pasien harus bekerja sama untuk membuat keputusan operasi yang tepat. Usia pasien, kesehatan umum, jumlah dan lokasi arteri yang tersumbat, dan preferensi pasien adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan ini. Pada beberapa pasien, CABG dipilih karena banyaknya arteri koroner yang tersumbat dan dapat menghindari kemungkinan pengulangan tindakan revaskularisasi di masa depan. Namun, bagi pasien yang lebih tua atau memiliki kondisi medis yang rumit, PCI mungkin lebih baik karena pemulihan yang lebih cepat dan risiko yang lebih rendah.

Pasien yang menjalani prosedur revaskularisasi dengan CABG atau PCI harus tetap menjaga pola makan yang sehat dan mengikuti program rehabilitasi jantung yang disarankan dokter mereka untuk meningkatkan hasil prosedur dan mencegah kondisi yang lebih buruk di masa depan.

Perawatan yang tepat diperlukan untuk memperbaiki kondisi pasien dengan penyakit jantung koroner, yang merupakan penyakit yang serius. Dalam beberapa kasus, tindakan revaskularisasi (baik melalui CABG maupun PCI) dapat menjadi pilihan yang baik untuk mengobati kondisi ini. Ini tergantung pada karakteristik pasien. Oleh karena itu, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan tindakan apa yang paling sesuai untuk kondisi Anda.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2024-04-19T111506.126.png

Untuk mencegah gigi keropos, ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan:

  • Menjaga kebutuhan nutrisi
    Mengikuti nutrisi yang tepat akan membantu Anda mendapatkan enamel yang lebih kuat. Kalsium adalah nutrisi terbaik untuk menjaga kesehatan gigi Anda, jadi mulailah mengonsumsi makanan yang tinggi kalsium seperti susu dan keju. Selain itu, pastikan Anda mengonsumsi makanan dan minuman yang rendah lemak yang mengandung banyak kalsium.
  • Mengurangi asupan tepung dan gula
    Hindari mengonsumsi terlalu banyak camilan seperti keripik, permen, dan makanan berbahan dasar tepung atau gula jika Anda ingin menjaga enamel tetap sehat. Ini karena makanan ini mudah menempel disela-sela gigi dan rentan terhadap bakteri yang dapat mengikis lapisan enamel.
  • Menggunakan produk pembersih gigi yang mengandung fluoride
    Flouride dapat ditemukan dalam pasta gigi dan obat kumur. Jika digunakan dalam perawatan gigi sehari-hari, zat ini dapat membantu memperkuat enamel. Selain itu, fluoride juga dapat memperbaiki kerusakan gigi pada tahap awal.
  • Makan permen karet
    Mengunyah permen karet tanpa gula juga bisa menjadi cara lain untuk mencegah gigi keropos karena permen karet mengurangi produksi air liur di mulut. Namun, pastikan permen karet tanpa gula tidak memicu pertumbuhan bakteri di mulut.
  • Tingkatkan jumlah air yang diminum Anda
    Untuk mengurangi air ludah, minumlah setidaknya dua liter (8 gelas) air mineral setiap hari. Hal ini berfungsi sebagai pembersih gigi alami dan menghilangkan asam di rongga mulut. Demineralisasi gigi dapat terjadi dalam mulut yang asam (pH rendah).
  • Membersihkan gigi
    Lakukan penyikatan gigi dengan teknik dan frekuensi yang tepat, dan lakukan pembersihan mekanis tambahan dengan benang gigi, juga dikenal sebagai floss.
  • Menggunakan antimikroba untuk rongga mulut
    Obat kumur klorheksidin dapat digunakan untuk melawan bakteri di rongga mulut. Jangan gunakannya lebih dari dua minggu.
  • Mengurangi jumlah kafein dan alkohol yang dikonsumsi
    Mulut kering dapat disebabkan oleh konsumsi alkohol dan kafein yang berlebihan, yang dapat menyebabkan kerusakan pada gigi dan gusi.

Semua orang ingin memiliki gigi yang sehat. Jika Anda termasuk orang yang berisiko mengalaminya, mulailah rutin merawat gigi Anda untuk menjaga kesehatan gigi Anda hingga lanjut usia. Selain itu, jangan lupa untuk pergi ke dokter gigi setiap enam bulan sekali untuk memeriksa kondisi mulut dan gigi Anda.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2024-04-18T082946.864.png

Salah satu faktor yang meningkatkan kemungkinan gigi keropos adalah terkikisnya enamel di gigi, yang biasanya disebabkan oleh zat asam. Selain itu, individu yang menderita kondisi medis tertentu, seperti mulut kering, penyakit asam lambung, atau orang yang mengonsumsi obat antihistamin juga berisiko mengalami gigi keropos. Lapisan terluar gigi yang disebut enamel berfungsi untuk melindungi dan mencegah kerusakan gigi. Sayangnya, konsumsi makanan dan minuman tertentu akan mengikis lapisan enamel ini dengan waktu. Gigi ini dapat menjadi sensitif dan mudah patah jika rusak atau keropos. Bakteri yang merugikan di gigi berasal dari sisa makanan manis yang menumpuk, yang kemudian berubah menjadi plak yang menempel di gigi.

Setelah itu, bakteri akan mengeluarkan zat asam yang dapat mengikis lapisan gigi secara bertahap. Jika kita tetap tidak sadar akan kebersihan gigi kita, lapisan yang terkikis ini dapat semakin lebar dan membentuk lubang. Oleh karena itu, untuk mencegah plak yang menyebabkan gigi berlubang, gigi harus dibersihkan secara teratur. Gigi ini dapat menjadi sensitif dan mudah patah jika rusak atau keropos. Apa saja makanan dan minuman yang harus dihindari untuk mencegah lapisan enamel di gigi rusak?

 

Makanan dan Minuman Penyebab Gigi Keropos

Hindari makanan atau minuman berikut agar Anda tidak mengalami gigi keropos:

  • Roti
    Siapa yang mengira ternyata roti dapat menyebabkan gigi menjadi lebih buruk? Ini karena air liur di mulut memecah zat pati menjadi gula saat mengunyah roti. Sisa roti yang dikunyah dapat menempel di sela-sela gigi, menyebabkan bakteri yang menyebabkan gigi berlubang dan keropos.
  • Permen
    Makanan manis, seperti kue dan permen, dapat merusak gigi dan menyebabkan gigi keropos. Ini karena kandungan gula pada sisa makanan yang menempel di gigi dapat memicu hadirnya bakteri, yang mengolah gula sebagai sumber energi, sehingga terbentuk zat asam.
  • Buah dengan rasa asam
    Makanan asam, seperti jeruk dan lemon, dapat mengikis enamel gigi dan menyebabkan kerusakan gigi. Jadi, jika Anda ingin mengonsumsi buah-buahan yang asam atau minum air dengan perasan lemon, pastikan untuk membilas mulut Anda dengan air putih setelahnya.
  • Minuman berkarbonasi
    Studi menunjukkan bahwa mengonsumsi minuman bersoda terlalu sering dapat menyebabkan gigi keropos dan kerusakan gigi lainnya. Ini karena minuman tersebut memicu pembentukan plak gigi dan peningkatan produksi asam, yang pada gilirannya menyebabkan enamel gigi terkikis. Soda juga dapat menyebabkan mulut kering. Bakteri akan cepat berkembang biak dan merusak gigi.
  • Es batu
    Mengunyah sesuatu yang keras dan dingin, seperti es batu, dapat merusak enamel gigi. Jika enamel rusak, gigi dapat terkelupas atau patah.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2024-04-17T083704.246.png

Penyakit Barrett’s Esophagus (BE) adalah ketika sel epitel kerongkongan normal berubah menjadi sel silindris, dengan skuamosa berlapis. Penyakit ini juga dikenal sebagai metaplasia intestinal. Hal ini terjadi karena terpapar asam lambung selama beberapa waktu. Namanya diambil dari Norman Barrett, seorang ahli bedah Inggris yang melaporkan penyakit tersebut pada tahun 1950. Perlu diketahui bahwa longgarnya katup LES dapat menyebabkan kerongkongan terpapar asam lambung. Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa kerongkongan barett dapat muncul pada pasien GERD, terutama mereka yang menderita penyakit ini selama lebih dari lima tahun. Beberapa pasien dengan GERD tidak akan mengalami BE.

Menurut literatur kedokteran, gejala GERD yang lama (lebih dari 5 tahun), usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin pria, merokok, obesitas, dan ras Kaukasia adalah faktor risiko 10-15% untuk mengalami BE. Mulut dan lambung terhubung melalui saluran yang disebut esofagus. Lower Esophageal Sphincter (LES) terletak di bagian bawah kerongkongan. Ini adalah sfingter, atau otot khusus yang dapat membuka dan menutup untuk mencegah refluks asam lambung atau masuknya makanan, minuman, dan asam lambung ke kerongkongan. Jika sfingter lemah, seperti yang terjadi karena penyakit refluks gastroesophageal (GERD), asam lambung akan terus naik ke kerongkongan dan akhirnya merusak lapisan kerongkongan, yang menyebabkan Barrett

 

Penyebab Barrett’s Esophagus

Barrett’s esophagus tidak disebabkan oleh sesuatu, tetapi penyakit asam lambung kronik (GERD) adalah kondisi di mana otot kerongkongan bagian bawah melemah sehingga asam lambung naik terus-menerus ke kerongkongan. Namun, tidak semua penderita GERD mengalami Barrett’s esophagus karena GERD, dan tidak semua Barrett’s esophagus terjadi sebagai akibat dari GERD.

 

Faktor Risiko Barrett’s Esophagus

Barrett’s esophagus lebih mungkin terjadi pada orang dengan kondisi berikut, selain penderita GERD kronis:

  • Berusia di atas lima puluh tahun.
  • Kelamin laki-laki.
  • Berlebihan berat badan atau obesitas
  • Merokok secara teratur atau pernah merokok secara aktif.
  • Mengalami gastritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori.
  • Memiliki anggota keluarga yang mengalami kanker esofagus atau Barrett’s esophagus.

 

Gejala Barrett’s Esophagus

Meskipun esofagus Barrett tidak menunjukkan gejala khusus, peningkatan asam lambung dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:

  • Rasa terbakar di dada
  • Rasa asam di mulut
  • Bau mulut, atau halitosis.
  • Sulit untuk menelan
  • Sepertinya ada makanan yang mengganjal di kerongkongan.
  • Sakit kerongkongan
  • Mual dan muntah
  • Menurunkan berat badan.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-4.png

Setiap orang memiliki kebiasaan minum yang unik, jadi jumlah air yang mereka keluarkan juga berbeda-beda tergantung pada jumlah air yang mereka minum. Namun demikian, orang dewasa normal mengeluarkan 1000 hingga 2000 mililiter urine setiap hari. Jika jumlah air seni yang dikeluarkan kurang dari jumlah ini, itu disebut oliguria, istilah medis untuk kondisi penurunan volume urine atau air kencing yang keluar dari tubuh. Oliguria adalah gejala dari kondisi di mana volume urine sangat sedikit, yaitu kurang dari 400 mL per 24 jam. Ini dapat menjadi gejala dari berbagai masalah kesehatan, termasuk dehidrasi dan penyakit ginjal. Semua orang dapat mengalami produksi urine yang rendah. Jenis penyakit ginjal tertentu yang dapat menyebabkan cedera ginjal akut membuat kondisi ini lebih mungkin terjadi.

Pada episode hipovolemia, tubuh manusia melakukan tindakan fisiologis normal untuk menyimpan cairan dan elektrolit. Mekanisme ini dikendalikan secara ketat oleh neurohormon dan dapat diperbaiki tanpa menyebabkan kerusakan ginjal berikutnya. Dengan minum cukup (sekitar 8–10 gelas per hari), orang dengan ginjal yang sehat dapat menghasilkan sekitar 800–2.000 mL urine setiap hari. Jika ginjal seseorang menghasilkan volume urine kurang dari jumlah tersebut, orang tersebut dapat mengalami oliguria. Usia menentukan batasan oligouria. Jumlah urine yang dapat dianggap oligouria adalah kurang dari 400 mL per 24 jam untuk orang dewasa, kurang dari 0,5 mL/kg berat badan/jam (mL/kg BB/jam) untuk anak-anak, dan kurang dari 1 mL/kg BB/jam untuk bayi.

 

Penyabab Oliguria

Perubahan aliran darah menuju ginjal (prerenal), kerusakan ginjal (renal), atau penyumbatan saluran urine (postrenal) dapat menyebabkan oliguria.

  • Gangguan pada aliran darah ke ginjal
    Oleguria prerenal adalah hasil dari hambatan aliran darah ke ginjal. Beberapa kondisi yang menyebabkannya adalah:

    • Perdarahan, dehidrasi yang parah, muntah, dan diare menyebabkan penurunan drastis jumlah darah atau cairan di dalam tubuh.
    • Reaksi alergi yang signifikan atau syok anafilaksis
    • Hipertensi tidak dapat dikendalikan.
    • Sepsis
    • Luka bakar yang parah
    • Gagal menerima
    • Gangguan jantung
  • Kerusakan Ginjal
    Oliguria dapat disebabkan oleh cedera atau kerusakan ginjal, seperti:

    • Kerusakan pada sel-sel tubulus ginjal, yang juga dikenal sebagai nefropati diabetik,
    • Glomerulonefritis adalah peradangan pada glomerulus atau saringan ginjal.
    • Gagal ginjal yang akut
    • Penyakit autoimun yang dapat menyerang ginjal, seperti skleroderma
    • Hipertensi maligna adalah kondisi di mana tekanan darah meningkat dengan cepat melebihi ambang batas normal.
    • Kumpulan gejala yang disebabkan oleh pecahnya sel darah merah dan rusaknya bagian dalam dinding pembuluh darah.
    • Penumpukan mioglobin dalam urine, yang dikenal sebagai mioglobinuria, terjadi, misalnya, ketika seseorang terkena kesetrum parah atau kecelakaan yang dipecahkan.
    • Keracunan logam berat, cyclosporin, aminoglikosida, atau amphotericin B
    • Eklamsia
  • Saluran urine tersumbat
    Oliguria postrenal terjadi ketika ginjal normal berfungsi tetapi ada sumbatan di saluran urine setelah ginjal, yaitu di ureter, kandung kemih, atau uretra. Beberapa penyakit atau kondisi yang dapat menyebabkan oliguria postrenal meliputi:

    • Batu dalam ginjal
    • Peningkatan prostat, juga dikenal sebagai benign prostatic hyperplasia (BPH),
    • Gangguan saraf di kandung kemih
    • Tumor di ginjal atau saluran kemih
    • Jaringan yang patah karena operasi saluran kemih
    • Infeksi yang disebabkan oleh cacing skistosoma.

Orang dengan diabetes, hipertensi, atau penyakit kritis lebih mungkin mengalami oligouria.

 

Gejala Oliguria

Seperti yang telah dijelaskan, oliguria adalah kondisi di mana volume urine hanya berkisar antara 100 hingga 400 mL per hari. Jika volume urine lebih rendah dari angka ini, yaitu kurang dari 100 mL per hari atau bahkan sama sekali tidak ada urine, kondisi tersebut disebut anuria. Selain volume urine yang lebih kecil, orang yang menderita oliguria juga mungkin mengalami gejala-gejala berikut:

  • Tekanan darah tinggi, juga dikenal sebagai hipertensi
  • Bengkak di kaki, atau edema
  • Sesak dada
  • Putih
  • Anoreksia, atau kekurangan nafsu makan
  • Sakit pinggang yang parah
  • Takikardia, atau detak jantung yang cepat
  • Mual dan muntah secara signifikan
  • Bibir mengering
  • Melemah

 

Sumber: Kemenkes


artikel-3.png

Jika masyarakat tidak tahu tentang penyakit radang usus, yang juga dikenal sebagai penyakit usus radang, penanganan penderita akan terlambat, menyebabkan kondisi mereka menjadi lebih buruk. Reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap saluran pencernaan adalah penyebab penyakit idiopatik yang dikenal sebagai radang usus. Diare, nyeri perut, dan penurunan berat badan adalah beberapa gejala radang usus. Melalui simbiosis mikroba, lingkungan usus yang sehat dapat membantu meningkatkan pencernaan makanan dan mempengaruhi mukosa sistem kekebalan tubuh.

Dianggap sebagai salah satu faktor pendorong utama peningkatan prevalensi penyakit radang usus (IBD) di negara-negara barat adalah perubahan faktor lingkungan, khususnya gaya hidup yang dipengaruhi oleh gaya hidup Barat, terutama perubahan pada pola makan. Pola makan ini melibatkan peningkatan jumlah protein dan lemak (tak jenuh) sambil mengurangi jumlah buah-buahan, sayuran, dan serat. “Westernisasi” kebiasaan makan di negara-negara berkembang sebanding dengan peningkatan kasus IBD di seluruh dunia.

 

Tipe Mayor Penyakit Radang Usus

  • Kolitis Ulseratif (KU)
    Kolitis ulseratif (KU) adalah peradangan yang terjadi di usus besar. KU dibedakan menurut lokasi, luas, dan intensitas peradangan.

    • Inflamasi yang terbatas pada rektum disebut proktitis ulseratif.
    • Inflamasi yang terjadi pada rektum dan kolon sigmoid disebut proktosigmoiditis.
    • Infeksi yang menyerang seluruh kolon disebut kolonitis.
    • Inflamasi yang dikenal sebagai kolitis sisi kiri dimulai dari rektum dan menyebar ke kolon sigmoid dan kolon desendens.
    • Salah satu bentuk pankolitis yang paling parah adalah kolitis fulminan.
  • Crohn Disease (CD)
    Salah satu area dari saluran pencernaan, mulai dari mulut hingga dubur, dapat terkena penyakit Crohn.
  • Kolitis Collagenous
    Adanya kumpulan kolagen yang tebal dan tidak elastis di bawah lapisan usus besar adalah tanda peradangan yang disebut kolitis kolagen.
  • Kolitis Limfositik
    Ketika sel-sel darah putih (limfosit) meningkat dalam jaringan usus besar, ini disebut kolitis limfositik. Diare yang berair, tetapi tidak berdarah, adalah gejala penyakit ini.

 

Penyebab dan Gejala

Radang usus dapat disebabkan oleh banyak hal, termasuk pola makan yang terlalu banyak mengandung cabai atau makanan pedas, konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan, masalah dengan sistem kekebalan tubuh, dan stres yang berlebihan.

Penderita tampak cukup pucat, kehilangan berat badan, lelah, kehilangan nafsu makan, diare, atau mengalami pendarahan saat buang air besar. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk segera berobat agar kita dapat menghindari komplikasi yang lebih parah seperti anemia atau rendahnya kadar hemoglobin dalam darah. Ada juga pasien yang mengalami bisul di lidah dan bibir mereka.

 

Pencegahan

Untuk menjaga sistem pencernaan Anda tetap sehat, sangat penting untuk mengonsumsi makanan yang seimbang. Masalah radang usus atau peradangan dapat dihindari dengan makan buah-buahan dan sayuran hijau serta minum air putih yang cukup. Atas rekomendasi dokter, sistem kekebalan tubuh dapat dipulihkan melalui penggunaan berbagai jenis obat, termasuk “hidrokortison succinite” dan “kortikosteroid”, yang berfungsi untuk menghilangkan dan meredakan peradangan.

Dokter pasien juga meminta mereka mengonsumsi zat besi seperti “asam folat” jika mereka menderita kekurangan darah. Jangka waktu pemulihan dan pemulihan juga bergantung pada tingkat kesehatan pasien, dan mungkin cukup lama. Singkatnya, mengikuti kebiasaan makan yang seimbang dan bergizi dapat membantu kita menghindari penyakit radang usus. Selain itu, meluangkan waktu untuk rekreasi dan berolahraga setiap hari juga dapat membantu mengurangi stres. Hal ini dapat membantu kita menghindari makan berlebihan yang pada akhirnya berbahaya bagi kesehatan kita.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2024-04-06T082857.313.png

Penyakit Barrett’s Esophagus (BE) adalah ketika sel epitel kerongkongan normal berubah menjadi sel silindris, dengan skuamosa berlapis. Penyakit ini juga dikenal sebagai metaplasia intestinal. Hal ini terjadi karena terpapar asam lambung selama beberapa waktu. Namanya diambil dari Norman Barrett, seorang ahli bedah Inggris yang melaporkan penyakit tersebut pada tahun 1950. Perlu diketahui bahwa longgarnya katup LES dapat menyebabkan kerongkongan terpapar asam lambung. Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa kerongkongan barett dapat muncul pada pasien GERD, terutama mereka yang menderita penyakit ini selama lebih dari lima tahun. Menurut literatur kedokteran, ada kemungkinan 10–15 persen pasien dengan GERD mengalami BE.

Gejala GERD yang lama (lebih dari 5 tahun), usia lebih dari 50 tahun, jenis kelamin pria, merokok, obesitas, dan ras Kaukasia adalah semua faktor risiko yang dapat menyebabkan BE. Mulut dan lambung terhubung melalui saluran yang disebut esofagus. Lower Esophageal Sphincter (LES) terletak di bagian bawah kerongkongan. Ini adalah sfingter, atau otot khusus yang dapat membuka dan menutup untuk mencegah refluks asam lambung atau masuknya makanan, minuman, dan asam lambung ke kerongkongan. Jika sfingter lemah, seperti yang terjadi karena penyakit refluks gastroesophageal (GERD), asam lambung akan terus naik ke kerongkongan dan akhirnya merusak lapisan kerongkongan, yang menyebabkan Barrett

 

Penyebab Barrett’s Esophagus

Barrett’s esophagus tidak disebabkan oleh sesuatu, tetapi penyakit asam lambung kronik (GERD) adalah kondisi di mana otot kerongkongan bagian bawah melemah sehingga asam lambung naik terus-menerus ke kerongkongan. Namun, tidak semua penderita GERD mengalami Barrett’s esophagus karena GERD, dan tidak semua Barrett’s esophagus terjadi sebagai akibat dari GERD.

 

Faktor Risiko Barrett’s Esophagus

Barrett’s esophagus lebih mungkin terjadi pada orang dengan kondisi berikut, selain penderita GERD kronis:

  • Berusia di atas lima puluh tahun.
  • Kelamin laki-laki.
  • Berlebihan berat badan atau obesitas
  • Merokok secara teratur atau pernah merokok secara aktif.
  • Mengalami gastritis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Helicobacter pylori.
  • Memiliki anggota keluarga yang mengalami kanker esofagus atau Barrett’s esophagus.

 

Gejala Barrett’s Esophagus

Meskipun esofagus Barrett tidak menunjukkan gejala khusus, peningkatan asam lambung dapat menyebabkan beberapa gejala berikut:

  • Rasa terbakar di dada
  • Rasa asam di mulut
  • Bau mulut, atau halitosis.
  • Sulit untuk menelan
  • Sepertinya ada makanan yang mengganjal di kerongkongan.
  • Sakit kerongkongan
  • Mual dan muntah
  • Menurunkan berat badan.

 

Sumber: Kemenkes


artikel-2.png

Gigi penting bagi setiap orang, dan kehilangan gigi tanpa penggantian dapat menyebabkan perubahan anatomis, fisiologis, dan fungsional. Gigi tiruan cekat, sebagian lepasan, dan penuh dapat digunakan untuk mengurangi kehilangan gigi. Gigi imitasi adalah alat kedua yang paling sering digunakan oleh orang tua setelah kacamata. Hingga saat ini, resin akrilik masih digunakan di bidang kedokteran gigi, dengan lebih dari 95% plat gigi tiruan terbuat dari resin akrilik head cured. Bahan ini dianggap memenuhi persyaratan sebagai bahan plat gigi tiruan karena tidak bersifat toksik, tidak mengiritasi jaringan, murah, mudah dimanipulasi, dan mudah dibuat.

Karena gigi tiruan resin akrilik selalu berkontak dengan saliva, minuman, dan makanan, mukosanya tertutup, sehingga lidah dan saliva tidak dapat membersihkan permukaannya, menyebabkan plak dan stain. Plak pada gigi tiruan merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan inflamasi pada mukosa palatal dan denture stomatitis. Faktor lain yang menyebabkan denture stomatitis termasuk Candida albicans, infeksi bakteri, alergi, faktor psikis, kurangnya kebersihan, aliran saliva, dan nutrisi pada gigi tiruan.

 

Kekurangan dan Kelebihan Resin Akrilik

Resin akrilik memiliki sifat yang menarik secara estetis, memiliki warna yang mirip dengan gusi, dapat meningkatkan kemampuan pengunyahan, relatif murah dan mudah diperbaiki, dan secara klinis cukup stabil terhadap panas. Salah satu kekurangan resin akrilik adalah porositasnya. Dengan waktu, resin akrilik mungkin menyerap air atau cairan.

 

Metode Gigi Tiruan Resin Akrilik

Karena mereka tidak pernah mendapatkan instruksi dari dokter gigi yang merawatnya, sebagian besar pemakai gigi tiruan tidak tahu cara membersihkannya. Untuk pasien yang lebih tua, instruksi secara lisan harus diperkuat dengan instruksi tertulis. Ini sangat penting karena mereka dapat melupakan instruksi secara lisan. Ada dua cara untuk membersihkan gigi tiruan: mekanis dengan sikat gigi; kimiawi dengan merendam gigi tiruan dalam larutan yang mengandung desinfektans, alkali peroksida, alkali hipoklorit, dan enzim. 10. Pembersihan gigi tiruan dengan merendamnya adalah upaya untuk mengurangi kerusakan flora mulut yang disebabkan oleh pemakaian gigi tiruan.

 

Sumber: Kemenkes


artikel.png

Pneumokoniosis pekerja batubara (CWP), atau penyakit paru-paru hitam, adalah penyakit akibat kerja yang kini meningkat baik dalam insiden maupun prevalensi di Amerika Serikat. Pekerja yang langsung terpapar batu bara di tambang batu bara biasanya menderita penyakit paru-paru hitam. Partikel debu batu bara akan mengendap di paru-paru dan menyebabkan peradangan dan jaringan parut. Karena penyakit ini tidak dapat disembuhkan, pengobatan berpusat pada gejala dan mencegah kerusakan paru-paru yang lebih parah. Jika kondisinya parah, transplantasi paru-paru mungkin dipertimbangkan. Pencegahan adalah penting, dan individu yang terpapar harus dipantau secara rutin. Meskipun penyakit paru-paru hitam merupakan kondisi yang tidak dapat pulih, gejalanya seringkali baru muncul bertahun-tahun setelah terkena debu batu bara.

Terdapat dua jenis penyakit paru-paru hitam: penyakit paru-paru hitam sederhana dan penyakit paru-paru rumit. Jaringan parut yang terbentuk di paru-paru jenis ini masih kecil dan tidak menimbulkan gejala. Kondisi ini biasanya ditemukan saat pekerja menjalani pemeriksaan kesehatan rutin. Di sisi lain, dalam kasus kompleks penyakit paru-paru hitam, jaringan parut yang terbentuk di paru-paru sudah meluas, dan gejalanya sudah jelas dan mengganggu. Untuk mencegah kerusakan paru-paru yang lebih parah, penyakit paru-paru hitam, baik yang sederhana maupun kompleks, harus dirawat dan dipantau secara rutin.

 

Penyebab Black Lung Disease

Pengendapan debu batu bara di dalam paru-paru menyebabkan penyakit paru-paru hitam atau pneumoniocosis pekerja batu bara. Karbon dan kadang-kadang silika ditemukan dalam debu batu bara. Tubuh akan menganggap partikel ini sebagai benda asing setelah mereka masuk dan mengendap di paru-paru.

Tubuh akan menggunakan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi dan mengeluarkan benda asing. Respon ini menyebabkan peradangan di paru-paru dan akhirnya fibrosis. Debu batu bara yang sudah mengendap di dalam paru-paru tidak dapat dihilangkan, jadi semakin lama seseorang bekerja dengan batu bara, semakin banyak debu yang menumpuk di paru-parunya.

 

Gejala Black Lung Disease

Meskipun jaringan parut telah terbentuk di paru-paru pada tahap awal penyakit paru-paru, penderita penyakit paru-paru hitam mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun. Namun, jika jaringan parut meluas, penderita penyakit paru-paru hitam dapat mengalami beberapa gejala berikut:

  • Sakit di dada
  • Ada sensasi seperti dada terikat.
  • Sesak dada
  • Bahkan dalam aktivitas yang biasanya tidak membuat lelah, Anda mudah lelah.
  • Batuk ringan
  • Batuk dengan lendir kehitaman

 

Pemeriksaan Black Lung Disease

Dokter akan memeriksa pasien melalui wawancara dan pemeriksaan fisik, termasuk menggunakan stetoskop untuk mendengarkan suara napas, untuk memastikan diagnosis:

  • Tanda-tanda peradangan paru-paru yang khas dari penyakit paru-paru hitam dapat ditemukan dengan melakukan foto rontgen dada atau scan CT.
  • Tes fungsi paru dilakukan untuk mengukur kemampuan paru-paru untuk melakukan pernapasan.
  • Jika gejala menjadi lebih parah, lakukan analisis gas darah untuk mengetahui tingkat oksigen dalam darah.

 

Sumber: Kemenkes


Copyright by Markbro 2025. All rights reserved.