Faktor Risiko yang Menyebabkan Glaukoma

artikel-2024-07-09T141627.120.png

Di dunia, glaukoma adalah penyebab utama kebutaan permanen yang berhubungan dengan penurunan kualitas hidup. Angka kejadian glaukoma pada usia 40-80 tahun diperkirakan akan meningkat dari 76 juta pada tahun 2020 ke 111 juta pada tahun 2040, atau 47.1 persen dari total.Peningkatan ini dimulai di Asia dan Afrika. Pada dekade-dekade berikutnya, prevalensi glaukoma diperkirakan akan terus meningkat. Glaukoma, yang merupakan masalah kesehatan yang harus diperhatikan, dan perlu dideteksi dan diobati untuk mencegah kebutaan. Mengidentifikasi glaukoma pada stadium awal sangat penting untuk mencegah penyakit tersebut berkembang.

Di Indonesia, glaukoma masih memprihatinkan karena sebagian besar penderita baru mencari perawatan hanya ketika kondisi menjadi lebih parah. Menurut Laporan “Situasi Glaukoma di Indonesia” yang dirilis pada tahun 2019, jumlah penderita glaukoma di Indonesia adalah 0,46 persen, atau empat hingga lima orang per 1.000 penduduk. Angka kunjungan glaukoma di bagian rawat jalan rumah sakit di Indonesia meningkat dari 65.774 pada tahun 2015 menjadi 427.091 pada tahun 2017. Menurut data pasien RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta dari tahun 2005 hingga 2006, sebesar 13,5?26% orang dengan glaukoma primer sudut terbuka dan 26% orang dengan glaukoma primer sudut tertutup.

Glaukoma adalah kondisi mata di mana tekanan bola mata yang tinggi menyebabkan kerusakan pada saraf mata, yang merupakan struktur penting dalam penglihatan. Namun, tidak semua penderita glaukoma mengalami tekanan bola mata yang tinggi. Akibatnya, glaukoma dapat sangat memengaruhi kualitas hidup mereka.

Semua orang dapat menderita glaukoma, tetapi beberapa orang memiliki risiko lebih tinggi. Ini termasuk orang berusia lebih dari 40 tahun, memiliki keluarga yang menderita glaukoma, menggunakan kacamata minus atau plus tinggi, mengalami tekanan darah tinggi, cedera pada mata, penderita kencing manis, dan mengonsumsi obat anti-radang jangka panjang dalam bentuk tetes, hirup, atau obat minum.

Glaukoma disebut “pencuri penglihatan” karena banyak penderita tidak memiliki gejala sama sekali atau gejalanya sangat ringan. Gejala dan tanda yang dapat muncul termasuk mata pegal, buram, nyeri, merah, lapang pandang menyempit, dan pelangi yang terlihat di sekitar cahaya. Saat terjadi serangan akut, yaitu peningkatan tekanan bola mata yang tiba-tiba, orang dapat mengalami pusing, sakit kepala, mual, dan muntah, yang terkadang dapat didiagnosa sebagai penyakit lain seperti maag.

Sebagian besar penderita glaukoma di Indonesia tidak terdeteksi, sehingga baru didiagnosa ketika kondisi mereka menjadi lebih parah, bahkan ketika mereka sudah kehilangan penglihatan. Meskipun glaukoma tidak dapat disembuhkan, ada cara untuk mengontrol dan mencegah kabut. Langkah terbaik untuk mencegah glaukoma adalah deteksi dini. Untuk melakukan deteksi dini, faktor resiko yang dimiliki setiap individu dapat diidentifikasi dan diketahui. Pada orang yang berusia di atas empat puluh tahun, skrining atau deteksi dini pada glaukoma dapat dilakukan setiap dua hingga empat tahun sekali, dan pada individu yang memiliki faktor resiko dapat dilakukan satu tahun sekali. Pemeriksaan ketajaman penglihatan, pemeriksaan tekanan bola mata dengan tonometer, pemeriksaan saraf mata, pemeriksaan lapang pandang (perimetri), pemeriksaan sudut bilik mata depan (gonioskopi), dan pemeriksaan ketebalan kornea (pakimetri) adalah semua metode yang digunakan dalam skrining glaukoma.

Glaukoma, salah satu penyakit tersering yang menyebabkan kebutaan, dapat dicegah dengan pengobatan yang tepat dan sedini mungkin. Oleh karena itu, deteksi dini dan skrining sangat penting untuk dilakukan, terutama pada individu dengan faktor resiko glaukoma. Sayangi mata Anda, lakukan pemeriksaan mata secara berkala, dan gunakan obat anti glaukoma secara teratur jika Anda didiagnosis menderita glaukoma.

 

Sumber: Kemenkes

Admin PERSI JATIM faradilla

Copyright by Markbro 2023. All rights reserved.